Tribun penonton Manchester City selama bertahun-tahun akrab dengan chant legendaris bertuliskan 'We're Not Really Here'. Kalimat sarkastik namun romantis itu dulunya merepresentasikan perjalanan klub dari masa-masa sulit hingga era kejayaan modern. Namun, vonis bersalah dari Premier League atas pelanggaran aturan finansial antara 2009 hingga 2018 mengubah makna chant tersebut secara drastis. Kini, pertanyaan yang menggelayuti benak publik bukan lagi sekadar keberadaan mereka di kasta tertinggi, melainkan apakah prestasi gemilang yang diraih selama ini ternoda oleh keputusan di ruang rapat manajemen?

Dilansir dari ESPN FC, skandal finansial ini membuat basis suporter Manchester City terbelah dalam menyikapi situasi pelik yang menimpa klub kesayangan mereka. Sebagian suporter merasa dikhianati dan dibohongi oleh para petinggi klub, sementara kubu lain tetap teguh berdiri di belakang Chairman Khaldoon Al Mubarak dan CEO Ferran Soriano yang kukuh menyatakan tidak bersalah. Suara-suara sumbang dari luar stadion mulai melabeli klub sebagai 'pencetak kecurangan', membuat memori indah dan selebrasi juara mendadak menjadi bahan cemoohan suporter rival di berbagai kompetisi top Eropa.

Bagi generasi suporter yang lebih senior, ancaman degradasi atau sanksi berat bukanlah hal baru yang perlu ditakuti secara berlebihan. Mereka pernah menyaksikan era kelam ketika klub berlaga di kasta ketiga Liga Inggris pada penghujung tahun 90-an silam, jauh sebelum era pengambilalihan dari Abu Dhabi mengubah peta kekuatan sepak bola domestik. Akan tetapi, bagi suporter generasi milenial dan gen Z yang hanya mengenal trofi demi trofi di bawah arahan manajer Pep Guardiola, prospek kejatuhan prestasi ini terasa jauh lebih menakutkan dan sulit untuk diterima akal sehat.

Tekanan psikologis kini menghantam suporter yang kerap harus menanggung beban reputasi klub di tempat kerja, di jalanan, hingga di tribun stadion lawan. Setiap kali bertandang ke markas rival, suporter harus bersiap mental menghadapi ejekan bertubi-tubi dari suporter klub lain yang menuntut hukuman tegas dijatuhkan. Kendati demikian, solidaritas internal suporter tetap coba dirajut melalui berbagai forum dan diskusi terbuka sembari menunggu proses banding resmi benar-benar diputuskan oleh pengadilan independen.

Akhir pekan ini, skuad asuhan Pep Guardiola akan kembali beraksi di pentas Premier League dengan melakoni laga tandang sarat gengsi. Sekitar dua ribu suporter setia dipastikan akan hadir langsung di stadion untuk memberikan dukungan di tengah atmosfer yang dipastikan memanas. Chant 'We're Not Really Here' yang akan mereka kumandangkan di laga tersebut dipastikan membawa makna yang jauh lebih dalam, merefleksikan kecemasan, kebingungan, sekaligus kesetiaan abadi di tengah ketidakpastian masa depan.