Keberhasilan Timnas Indonesia merengkuh takhta juara FIFA ASEAN Cup 2026 ternyata menyisakan catatan serius dari sudut pandang pengamat sepak bola nasional. Di balik euforia kemenangan yang membakar semangat suporter di tribune, skuad Garuda dinilai masih menggendong dua pekerjaan rumah besar yang wajib segera diselesaikan sebelum terjun di ajang level kontinental.
Pengamat sepak bola nasional, Supriyono, membeberkan bahwa aspek transisi permainan dan efektivitas situasi bola mati atau set piece menjadi lubang yang belum sepenuhnya tertutup rapat. Mengaca pada memori kekalahan kontra Vietnam di turnamen yang sama, masalah transisi dari menyerang ke bertahan terbukti sangat rapuh dan menjadi alarm bahaya yang harus segera diredam oleh sang juru taktik.
Lebih lanjut, mantan pemain Timnas Indonesia Primavera itu menyoroti taktik pelatih John Herdman yang gemar menerapkan skema open play menyerang agresif. Situasi ini kerap membuat sektor tengah yang dikawal oleh Thom Haye dan Joey Pelupessy menjadi sangat terekspos karena para fullback berdiri terlalu tinggi ketika membangun gelombang serangan ke jantung pertahanan lawan.
Selain transisi, ketajaman dalam memaksimalkan set piece juga menjadi sorotan tajam meski gol sempat tercipta lewat kaki Dean James di partai final. Menyongsong persaingan ketat di Piala Asia 2027 di mana Garuda bakal berjibaku menghadapi raksasa-raksasa Asia seperti Jepang dan Qatar, skema bola mati wajib dikonversi menjadi senjata mematikan alih-alih celah kerentanan.
Sebagai solusi jangka panjang menghadapi turnamen padat, Supriyono turut menyarankan perlunya mencari deputi sepadan bagi Joey Pelupessy di posisi gelandang jangkar. Nama gelandang bertahan Borneo FC, Rivaldo Pakpahan, dinilai sebagai opsi ideal untuk mengantisipasi potensi akumulasi kartu maupun kelelahan fisik di tengah ketatnya persaingan skuad Garuda.
KOMENTAR ()
Kamu harus login untuk ikut berdiskusi.
Login Sekarang