Kabar duka yang mendalam menyelimuti dunia olahraga nasional setelah pelatih sekaligus mantan atlet bulutangkis legendaris Indonesia, Atik Jauhari, dikabarkan meninggal dunia pada usia 77 tahun. Berdasarkan keterangan resmi yang diterima, sosok yang dikenal bertangan dingin dalam mencetak pebulutangkis andal tersebut menghembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Mayapada, Tangerang Kota.
Kehilangan besar ini turut dikonfirmasi oleh Ketua Komunitas Bulutangkis Indonesia, Haryanto Arbi, yang menyampaikan rasa belasungkawa mendalam atas kepergian sang pahlawan bulutangkis nasional. Semasa hidupnya, figur kelahiran Bandung ini mendedikasikan sebagian besar waktunya untuk memajukan prestasi Timnas Indonesia di kancah internasional melalui tangan dinginnya.
Meskipun kariernya sebagai pemain tidak terlalu mencolok—hanya mencatatkan beberapa momen penting seperti juara Kejurnas 1971 bersama Christian Hadinata dan Belgia Terbuka 1973—reputasinya sebagai pelatih justru berada di level yang berbeda. Di usia yang masih sangat muda yakni 25 tahun, ia sudah dipercaya untuk memegang kendali di pemusatan latihan nasional dan mengorbitkan banyak nama besar.
Nama-nama legenda seperti Liem Swie King hingga deretan ganda putra legendaris era 1990-an pernah merasakan polesan taktik dan ketajaman instingnya di pelatnas Cipayung. Salah satu mantan anak didiknya, Candra Wijaya, mengenang almarhum sebagai sosok pekerja keras yang ulet, tekun, dan bekerja dalam senyap demi melahirkan juara dunia.
Jenazah Atik Jauhari rencananya akan disemayamkan di Kota Tangerang sebelum akhirnya dilangsungkan proses pemakaman di kawasan Cipondoh. Warisan taktik, kedisiplinan, dan jasa besar almarhum akan terus dikenang sebagai salah satu fondasi kejayaan bulutangkis Indonesia di panggung dunia.
KOMENTAR ()
Kamu harus login untuk ikut berdiskusi.
Login Sekarang