Gian Piero Gasperini baru beberapa bulan duduk di kursi panas AS Roma, tapi pengaruhnya di dalam klub sudah terasa luar biasa. Bahkan, banyak yang menilai pelatih asal Italia itu kini punya kekuatan lebih besar dibandingkan pendahulunya, termasuk José Mourinho. Pertanyaannya sekarang: mampukah ia mengulang sihirnya bersama Atalanta dan mengubah Donyell Malen menjadi mesin gol sekelas Gonzalo Higuaín?

Start Roma musim ini memang impresif. Di bawah arahan Gasperini, Giallorossi tampil agresif dengan pressing tinggi dan transisi cepat—ciri khas yang dulu bikin Atalanta ditakuti di Eropa. Namun yang lebih menonjol adalah bagaimana Gasperini dengan cepat menguasai ruang ganti. Keputusan-keputusannya jarang diintervensi, sesuatu yang jarang terjadi di klub sebesar Roma dalam beberapa tahun terakhir.

Fenomena ini menarik untuk dibahas, terutama saat membandingkan masa kekuasaan Mourinho. Pelatih asal Portugal itu memang membawa trofi Conference League dan membangun ikatan emosional dengan fans, tetapi konflik internal dengan manajemen sempat membuatnya kehilangan kendali. Gasperini datang dengan pendekatan berbeda: ia membangun hierarki yang jelas dan menuntut kepatuhan total. Hasilnya? Krisis yang dulu sering melanda Roma kini lebih jarang terdengar.

Nah, sorotan kini mengarah ke Donyell Malen. Penyerang asal Belanda itu punya kecepatan dan naluri gol yang tajam, tetapi belum konsisten di level tertinggi. Di tangan Gasperini, banyak yang percaya Malen bisa berkembang seperti pemain-pemain sayap yang dulu sukses di Bergamo. Bahkan, ada spekulasi ia bisa menantang rekor fantastis Gonzalo Higuaín: 36 gol dalam satu musim Serie A—catatan yang bertahan sejak 2015-2016.

Apakah target itu realistis? Tentu saja tidak mudah. Higuaín mencetak rekor tersebut saat membela Napoli dengan dukungan lini tengah yang sangat kreatif. Namun, jika ada pelatih yang mampu memaksimalkan potensi seorang penyerang, Gasperini adalah salah satunya. Ia pernah mengubah pemain seperti Alejandro Gómez dan Duván Zapata menjadi bintang, dan kini tantangan serupa menanti di Roma.

Dengan musim yang masih panjang, peluang Roma untuk bersaing di papan atas Serie A terbuka lebar. Jika Malen bisa menemukan konsistensi di bawah arahan Gasperini, bukan tidak mungkin anak asuhnya itu akan menjadi kandidat Capocannoniere—dan siapa tahu, memecahkan rekor yang sudah bertahan hampir satu dekade. Satu hal yang pasti: semua mata kini tertuju pada bagaimana sang pelatih dan striker anyarnya menjawab ekspektasi besar di ibu kota.