Panggung politik FIFA kembali memanas setelah Dewan FIFA menggelar rapat tertutup di Zurich. Pertemuan tersebut menjadi ajang perdebatan sengit terkait berbagai kebijakan kontroversial, mulai dari rencana penjualan operasi komersial hingga tumpukan cadangan kas organisasi. Di tengah tekanan dari kubu oposisi yang dipimpin oleh UEFA, Gianni Infantino secara terbuka menyampaikan permintaan maaf atas berbagai kesalahan langkah yang sempat ia ambil secara senyap.

Kubu loyalis mengklaim bahwa seruan persatuan dari sang presiden mendapat sambutan positif setelah ia menjanjikan peningkatan dana bantuan bagi asosiasi anggota hingga mencapai sekitar Rp98 Triliun ($6,35 miliar) untuk kurikulum empat tahun ke depan. Namun, pihak oposisi menilai langkah tersebut tidak lebih dari strategi kampanye terselubung untuk meredam kritik tajam. Kebijakan pembagian dana ini bahkan disamakan oleh mantan presiden Sepp Blatter dengan praktik penjualan surat pengampunan dosa di Abad Pertengahan demi melanggengkan kekuasaan.

Meskipun belum ada figur penantang kuat yang secara resmi dideklarasikan untuk menjegal langkahnya dalam pemilihan Maret mendatang, situasi politik di internal badan sepak bola dunia ini masih sangat cair. Batas akhir pendaftaran kandidat masih menyisakan waktu, sementara proses hukum di pengadilan federal Amerika Serikat terkait proyek komersial yang gagal terus berjalan tanpa kepastian waktu penyelesaian yang pasti dari pihak berwenang.

Tekanan terhadap kepemimpinan puncak juga datang dari dalam, dibuktikan dengan mundurnya sejumlah pejabat tinggi termasuk mantan chief operating officer Kevin Lamour beberapa waktu lalu akibat ketidaksepakatan internal. Kendati demikian, kubu oposisi Eropa tampaknya masih menahan opsi nuklir mereka dan memilih mengandalkan kelompok kerja khusus untuk mengawasi perbaikan tata kelola organisasi agar tidak berujung pada pemutihan masalah semata.

Sejarah kelam kepemimpinan masa lalu menunjukkan bahwa kursi kekuasaan tertinggi di Zurich tidak pernah benar-benar kebal terhadap kejutan mendadak. Mengingat batas waktu nominasi dan konstelasi politik global yang dinamis, para penentang petahana meyakini bahwa pertarungan menuju pemilihan presiden mendatang masih menyimpan banyak babak menegangkan yang siap mengguncang tribun sepak bola internasional.