Sambutan luar biasa langsung pecah di bandara ketika Mohamed Salah mendarat di Turki mengenakan jersey kandang kebanggaan Trabzonspor. Kepindahan penyerang bintang asal Mesir ini sempat dianggap sebagai salah satu kejutan terbesar di bursa transfer musim panas 2026. Tak butuh waktu lama bagi sang pemain untuk membuktikan magisnya di atas lapangan hijau dengan langsung mengemas 10 gol dan lima assist dari 15 pertandingan di semua kompetisi bersama klub Laut Hitam tersebut.

Dampak kedatangan pemain berusia 34 tahun ini langsung menghantam sektor komersial klub secara masif. Dilansir dari BBC Sport, penjualan merchandise klub dalam tiga bulan pertama berhasil melampaui total pendapatan musim lalu. Bahkan, batu tempat ia berpose saat mendaki dataran tinggi Trabzon kini resmi berganti nama menjadi Salahtasi dan menjadi destinasi wisata baru bagi para pelancong yang penasaran dengan sang ikon sepak bola.

Di balik gairah luar biasa publik Turki, Salah menikmati kehidupan yang lebih tenang di Yomra, jauh dari hiruk-pikuk Istanbul yang melelahkan. Ia dikelilingi tim pengamanan pribadi dan koki khusus demi menjaga performa fisiknya tetap prima. Pengaruh eks bintang Liverpool ini juga dirasakan rekan setimnya, termasuk penyerang Paul Onuachu yang menyebut kehadiran sang bintang sebagai sebuah berkah besar bagi skuad asuhan pelatih dalam mengejar ambisi juara.

Saat ini, Trabzonspor berada dalam jalur perebutan gelar juara Liga Super Turki, menempel ketat sang pemuncak klasemen dengan selisih tiga poin saja setelah mengemas tujuh kemenangan dari 10 laga awal. Keberhasilan menaklukkan tim-tim kuat seperti Besiktas dan penguasa puncak klasemen membuktikan bahwa kedatangan Salah bukan sekadar proyek pemasaran semata, melainkan amunisi serius untuk mendobrak dominasi tiga raksasa Istanbul.

Dengan kontrak berdurasi dua tahun di tangan, Salah masih menyimpan hasrat besar untuk tampil di Piala Afrika 2027 serta Piala Dunia 2030 mendatang. Meski masa depannya selepas dari Turki masih menyimpan tanda tanya besar, lembaran baru di Laut Hitam ini membuktikan bahwa sang Raja Mesir belum habis dan masih memiliki banyak cerita indah untuk diberikan di atas lapangan hijau.