Mario Gila mengungkapkan bahwa Ruben Amorim dan mantan direktur olahraga Lazio, Igli Tare, merupakan sosok kunci di balik kepindahannya dari Lazio ke Milan pada musim panas ini. Bek asal Spanyol itu juga menilai kemenangan 4-2 atas Manchester United dalam laga pramusim adalah persiapan ideal menjelang dimulainya Serie A akhir pekan ini.

Mario Gila saat memperkuat AC Milan
Mario Gila saat tampil untuk AC Milan. (Foto: La Gazzetta dello Sport)

Dalam wawancara eksklusif dengan La Gazzetta dello Sport yang terbit pada Senin, Gila berbicara tentang adaptasinya di Milanello, gaya bermain baru di bawah Amorim, hingga reuni dengan Luka Modric. Ia mengakui bahwa kemenangan atas Setan Merah memberi kepercayaan diri besar bagi skuad AC Milan menjelang laga perdana Serie A melawan Lecce.

“Sejujurnya, kami membutuhkan itu,” ujar Gila. “Saya sangat senang dengan kemenangan dan performa tim. Saya merasa ini adalah tantangan ideal sebelum musim dimulai. Saya sangat senang kami bisa bermain seperti itu melawan lawan tangguh seperti Manchester United. Saya merasa baik, meski masih ada pekerjaan rumah, tapi kami sudah menunjukkan kesiapan.”

Musim panas yang tidak mulus dilalui Gila. Ia bergabung dengan Milan pada pertengahan Juli, namun cedera hamstring hanya 22 menit setelah debutnya dalam laga persahabatan melawan Celtic di Glasgow membuatnya harus menepi. “Ini bulan yang aneh,” aku pemain berusia 24 tahun itu. “Saya sudah cedera lagi selama pramusim. Dua tahun lalu saya absen dua bulan di Lazio, dan itu pernah terjadi sebelumnya. Sekarang saya merasa lebih baik dan senang tim punya energi positif.”

Adaptasi Gila di Milanello berjalan mulus. “Saya disambut baik oleh semua orang. Saya merasa nyaman sejak latihan pertama. Ada atmosfer positif dan saya tidak bisa meminta lebih. Saya akrab dengan pelatih. Dia tipe yang suka berbicara dengan semua orang, merawat hubungan di luar lapangan. Saya pikir itu detail yang sangat penting dalam sebuah tim.”

Amorim menerapkan gaya bermain dengan garis pertahanan tinggi, berbeda dengan era Massimiliano Allegri. Gila mengaku antusias dengan pendekatan tersebut. “Bermain dengan garis tinggi jelas lebih berisiko,” katanya. “Tahun lalu saya menonton Milan beberapa kali dan gayanya jelas berbeda. Musim ini instruksi taktisnya jauh berbeda, tiga bek lebih tinggi, mendorong pusat gravitasi ke atas. Memang lebih sulit dan berisiko karena meninggalkan ruang di belakang, tapi dengan cara ini tim bisa merebut bola di area yang lebih berbahaya. Saya pikir gaya kami akan lebih proaktif dan menyerang.”

Reuni dengan Luka Modric, yang pernah bersama di Real Madrid, menjadi berkah tersendiri bagi Gila. “Dia spesial,” puji Gila. “Saya beruntung bertemu dengannya saat masih muda di Madrid. Saya berlatih dengan tim utama dan meski hanya bermain sedikit, saya menjadikannya inspirasi. Dia pemain yang dikagumi semua orang. Berada di Milan bersama Luka adalah hadiah takdir. Saya senang berbicara dengannya, mendengar saran-sarannya. Saya yakin dia akan banyak membantu saya berkembang, terutama dalam hal mentalitas.”

Soal kepindahannya, Gila menegaskan bahwa ia selalu yakin Milan adalah pilihan terbaik meski ada minat dari Napoli dan Atalanta. “Saya ingin Milan karena percakapan dengan Tare positif, tentang tim dan klub. Lalu saya mendapat telepon dari Ruben dan dia meyakinkan saya. Memiliki pelatih dan klub yang menginginkan Anda adalah faktor penting. Bahkan dengan tim lain, saya selalu yakin Milan adalah pilihan terbaik.”