Manuel Locatelli buka suara soal keputusannya menolak pinangan Arsenal demi bergabung dengan Juventus. Gelandang asal Italia itu mengaku telah 'membuat agennya gila' karena ngotot hanya mau memperkuat Bianconeri.

Sejak beberapa tahun terakhir, nama Locatelli memang santer dikaitkan dengan sejumlah klub Premier League. Arsenal menjadi peminat terbesar dan berharap bisa memboyongnya setelah EURO 2020. Namun, pemain berusia 27 tahun itu punya tekad bulat untuk berseragam Si Nyonya Tua.

"Itu sepenuhnya pilihan dari hati," ungkap Locatelli kepada Undici, seperti dilansir dari Football Italia. "Arsenal adalah tim yang luar biasa, dengan sejarah besar, di liga yang sangat penting. Tapi saya hanya menginginkan Juventus. Saya sudah menginginkannya sejak setahun sebelumnya ketika saya sangat dekat untuk bergabung."

"Saya tidak mau mendengarkan tawaran lain, saya membuat agen saya gila. Mereka terus mengajukan tim-tim lain dan saya selalu bilang tidak, saya hanya ingin Juve," tambahnya. Locatelli juga mengaku seluruh keluarganya adalah pendukung setia Bianconeri dan ia tumbuh dengan mengidolakan Alessandro Del Piero dan Pavel Nedved.

Pada 2021, Juventus akhirnya menebus Locatelli dari Sassuolo dengan skema pinjaman dua tahun plus kewajiban membeli sebesar €36,4 juta atau sekitar Rp618 miliar. Keputusannya bertahan di Turin membuahkan hasil manis saat ia mewarisi ban kapten dari Danilo pada Januari 2025.

"Semua orang tahu apa arti Juventus bagi saya. Ini mimpi yang menjadi kenyataan, tanggung jawab yang besar. Saya berhasil menjadi kapten dari tim yang saya cintai, dan saya tahu apa konsekuensinya. Saya harus memberi contoh setiap hari," ujar Locatelli. "Saya beruntung bisa bekerja dengan kapten-kapten hebat Juventus sebelumnya, yang mengajari saya banyak hal. Dari Giorgio Chiellini, Leonardo Bonucci, hingga Danilo, saya belajar sesuatu dari mereka semua."

Locatelli juga mengaku sempat kesulitan saat suporter Juventus mengkritiknya, baik di media sosial maupun di stadion. "Saya sangat menderita saat orang mencemooh saya di stadion, tapi di level ini kamu harus bisa menghadapinya. Ada orang yang tidak sabar melihatmu jatuh," katanya. "Namun, jika kamu tidak bisa menghadapinya, maka kamu tidak bisa berada di level teratas."

Ia juga menyinggung momen didekati pelatih Luciano Spalletti setelah sempat dicoret dari skuad Italia untuk EURO 2024. "Dia langsung bicara dengan saya, bilang dia percaya pada saya dan mungkin pernah membuat kesalahan di masa lalu. Itu penting untuk langsung merasakan kepercayaan itu," jelas Locatelli. Ia juga mengaku sempat berkonsultasi dengan profesional untuk mengatasi tekanan mental. "Saya sadar tidak bisa melakukannya sendiri, jadi saya mulai bicara dengan seorang profesional yang banyak membantu saya."