Direktur Napoli, Giovanni Manna, baru-baru ini membuat pengakuan mengejutkan dalam siniar Colpi da Maestro soal drama transfer yang melibatkan penyerang asal Belgia tersebut. Hubungan sang bomber dengan klub sempat berada di titik nadir jelang persiapan Piala Dunia 2026, terutama setelah ia menolak pulang dari Belgia demi menjalani pemulihan cedera secara mandiri.

Situasi pelik ini sempat memicu perang pernyataan tajam dari kedua belah pihak sebelum akhirnya situasi mereda. Manna mengakui bahwa para pemain sepak bola terkadang memiliki sifat egois karena memikirkan ambisi pribadi menuju turnamen akbar, sementara klub tengah berjuang mati-matian mengamankan target vital di zona Liga Champions.

Menjelang bursa transfer musim panas, masa bakti penyerang berusia 33 tahun itu di Naples sudah dipastikan habis. Namun, mencari klub yang sanggup memenuhi tuntutan gaji sekaligus membayar biaya transfer bukanlah perkara mudah di tengah pasar yang sedang lesu dan rumit bagi Partenopei.

Beruntung, titik terang akhirnya muncul pada pertengahan Agustus ketika raksasa Turki, Fenerbahce, setuju melayangkan mahar senilai €6 juta atau sekitar Rp102 Miliar ditambah bonus. Angka ini tentu jauh dari ekspektasi awal ketika mereka menebusnya dari Chelsea dengan kontrak berdurasi tiga tahun serta gaji besar.

Beban finansial klub semakin berat mengingat mereka juga harus mengamankan investasi besar untuk mendatangkan Rasmus Hojlund sebagai pengganti sepadan di lini depan. Meski penjualan tersebut tidak berjalan sesuai rencana ideal, Manna tetap merasa lega dan mendoakan yang terbaik bagi sang mantan bomber yang pernah berjasa membawa klub meraih Scudetto.