Langkah England di ajang Piala Dunia harus terhenti secara dramatis setelah Tonga sukses menundukkan Samoa dengan skor tipis 20-18 pada laga penutup grup. Pasukan asuhan pelatih Brian McDermott sejatinya mampu mengamankan kemenangan meyakinkan 34-12 atas Papua Nugini sebelumnya, namun kekalahan telak di laga pembuka membuat nasib mereka berada di ujung tanduk akibat selisih poin yang terlalu jauh.

Harapan publik Inggris sempat menyala ketika Tonga memimpin 8-0 berkat aksi gemilang Robert Toia dan tambahan poin dari Isaiya Katoa. Skuad The Three Lions hanya terpaut selisih poin masif dan sangat bergantung pada skenario agar Tonga bisa terus mendominasi hingga akhir laga. Sayangnya, kebangkitan Samoa lewat tries dari Brian To'o dan rekan-rekan mengubah jalannya pertandingan secara drastis di paruh kedua.

Kegagalan melaju ke babak empat besar ini meninggalkan kekecewaan mendalam karena Inggris sebenarnya mampu mengemas dua kemenangan dari tiga laga fase grup. Kemenangan besar 82-0 atas Prancis pada matchday kedua belum cukup untuk menutupi luka kekalahan 30-12 kontra Tonga di awal turnamen, yang pada akhirnya menjadi penentu nasib pahit mereka di tanah Australasia.

Format turnamen edisi kali ini yang mengalami pemangkasan peserta dari 16 menjadi 10 tim menuai banyak kritik pedas dari berbagai kalangan. Dilansir dari Sky Sports, pengamat rugby Jon Wilkin bahkan menyebut struktur kompetisi ini sangat tidak adil karena minimnya laga perempat final membuat satu kekalahan di pekan pertama langsung menghancurkan peluang lolos sebuah tim.

Dengan hasil dramatis ini, Tonga dipastikan melaju ke semifinal untuk menantang Selandia Baru, sementara Samoa akan menghadapi Australia dalam duel ulangan final edisi 2022 lalu. Kepulangan lebih awal ini memaksa Inggris melakukan evaluasi total terhadap kesiapan taktik serta regulasi turnamen internasional di masa mendatang.