Setuju atau tidak, John Herdman kini berdiri sejajar dengan Anatoli Polosin sebagai juru taktik yang sukses mempersembahkan gelar juara mayor bagi Timnas Indonesia. Jika Polosin mengukir sejarah pada cabang olahraga sepak bola SEA Games 1991, maka Herdman baru saja mengantar skuad Garuda menjadi kampiun FIFA ASEAN Cup 2026 dan mengembalikan status 'King of Asia Tenggara'. Selepas kesuksesan tersebut, sang pelatih kerap menghiasi berbagai ruang media untuk membedah rumus sukses dan melontarkan gagasan besarnya selama berkarier di Nusantara.

Gelar juara ini menempatkan arsitek asal John Herdman dalam jajaran buku sejarah sepak bola nasional, bersanding namun berbeda kisah dengan era kepelatihan sebelumnya seperti Luis Milla maupun Shin Tae-yong. Dengan kedatangannya yang diibaratkan sebagai simbol perjalanan besar menuju masa depan, ekspektasi publik kini tertuju pada ambisi yang lebih tinggi. PSSI sendiri telah mematok target agar skuad Garuda mampu menembus babak play-off Piala Dunia pada edisi satu abad turnamen di tahun 2030, sebelum mengincar tiket otomatis pada 2034.

Dalam pandangan sang juru taktik, fondasi tim nasional saat ini merupakan hasil dari proses berkesinambungan yang turut dirintis oleh para pendahulunya. Tantangan ke depan tentu tidak akan mudah dan menuntut ketelitian tinggi dalam meramu komposisi tim. Kombinasi antara talenta lokal dan penambahan pemain keturunan baru yang diproyeksikan mengisi posisi winger akan menjadi bahan utama dalam membangun struktur taktik yang solid demi menggapai impian besar tersebut di panggung internasional.

Sebelum melangkah jauh menuju target tahun 2030, ujian konsistensi berikutnya sudah menanti di depan mata melalui ajang Piala Asia 2027. Peta jalan yang dicanangkan PSSI menuntut skuad Garuda untuk mampu melangkah hingga babak perempat final. Keberhasilan di turnamen regional kemarin kini harus segera diuji dalam level kompetisi yang jauh lebih ketat di tingkat benua, sekaligus membuktikan apakah revolusi taktik ini berada di jalur yang tepat.