Insiden kelam kembali mencoreng dunia sepak bola nasional ketika rombongan Persib Bandung U-18, yang tengah berjuang di ajang Elite Pro Academy (EPA), harus mengalami teror mencekam di perjalanan. Bus yang membawa skuad muda Maung Bandung diserang secara brutal oleh sekelompok orang tak dikenal di Rest Area Batang KM 360, Jawa Tengah, pada Minggu malam. Tidak hanya merusak armada tim, gerombolan oknum tersebut juga diduga melakukan penjarahan terhadap koper-koper milik ofisial.

Situasi semakin memanas setelah Media Officer Persib Bandung U-18, Pandu Persada, dilaporkan turut menjadi korban kekerasan fisik dalam insiden berdarah tersebut. Berdasarkan penelusuran di lapangan, penyerangan ini diduga kuat dilakukan oleh oknum suporter yang sedang dalam perjalanan pulang usai menyaksikan laga tandang dari Yogyakarta. Tindakan beringas ini sontak memicu gelombang kecaman dari berbagai pihak yang prihatin atas keselamatan para pemain muda.

Menanggapi tragedi memilukan ini, Ketua Umum Viking Persib Club (VPC), Tobias Ginanjar, langsung meluapkan amarah dan mengutuk keras aksi anarkis yang menimpa bibit-bibit muda sepak bola Indonesia. Menurut sang pentolan suporter, batas kewajaran dalam mendukung klub kesayangan telah benar-benar dilanggar oleh para pelaku yang tidak bertanggung jawab. Rivalitas yang seharusnya hanya sebatas di atas lapangan hijau kini justru merembet hingga membahayakan nyawa manusia.

"Istilah rivalitas 2x45 ada untuk jadi pengingat agar tidak melakukan hal-hal konyol di luar tribune dan tidak ada hubungan dengan pertandingan," ujar Tobias dengan nada geram saat dihubungi awak media di Bandung. Ia menambahkan bahwa insiden yang menyasar pemain klub junior sudah masuk ke dalam kategori kriminal murni yang mencederai sportivitas. Terlebih lagi, para penggawa Persib Bandung U-18 merupakan aset penting bagi masa depan sepak bola nasional yang seharusnya dilindungi.

Pihak kepolisian kini didorong untuk bergerak cepat mengusut tuntas kasus penyerangan yang telah mengancam keselamatan jiwa tersebut. Mengingat banyaknya bukti berupa rekaman video dan foto yang sudah beredar luas di berbagai platform media sosial, Tobias berharap para pelaku segera diciduk dan diadili secara hukum. Langkah tegas ini dinilai sangat krusial agar tidak ada lagi ruang bagi aksi kekerasan yang mengatasnamakan rivalitas suporter di masa mendatang.