Kirsty Hanson mencuri perhatian pada laga pramusim pertamanya bersama Tottenham Hotspur dengan mencetak gol. Meski banyak bintang asing meramaikan Women's Super League (WSL) musim panas ini, langkah Hanson dari Aston Villa ke Tottenham nyaris luput dari sorotan. Namun, ada alasan kuat untuk percaya bahwa Spurs diam-diam telah melakukan perekrutan yang cerdas.
Pemain berusia 28 tahun itu menjadi pencetak gol terbanyak ketiga di WSL musim lalu, meskipun timnya, Aston Villa, terpuruk di peringkat kesembilan. Dengan 12 gol dalam 22 pertandingan, hanya Khadija Shaw yang dinobatkan sebagai Pemain Terbaik PFA dan penyerang Inggris Alessia Russo yang mampu melampaui catatannya. Angka tersebut menunjukkan kualitas Hanson yang tidak bisa dianggap remeh.
Kepindahan ini terwujud berkat kedekatan Hanson dengan manajer Tottenham, Martin Ho, yang pernah menjadi asisten pelatih di Manchester United saat Hanson bermain di sana. Ho menjadikan Hanson target utama di bursa transfer, dan klub mendukungnya dengan menebus sang striker dengan biaya yang tidak diungkapkan. Hanson pun mengakui peran penting Ho dalam pengembangan kariernya.
"Saya sangat berterima kasih kepada Villa. Mereka tahu saya pergi dengan cara yang baik. Saya benar-benar menikmati waktu saya di sana," ujar Hanson kepada BBC Sport. "Semua orang di sana membantu memulihkan kepercayaan diri saya. Semoga saya bisa membangun itu sekarang, tetapi saya tidak ingin memberi tekanan pada diri sendiri."
Hanson menilai langkahnya ke Tottenham adalah keputusan yang tepat karena ambisi klub yang terus meningkat. "Anda bisa melihat ambisi mereka, dan setiap musim mereka terus berkembang. Ketika mereka menunjuk Martin sebagai manajer, saya pikir itu pernyataan besar karena dia salah satu pelatih terbaik yang pernah bekerja sama dengan saya," tambahnya. Spurs yang finis kelima musim lalu berharap bisa menembus tiga besar dan lolos ke Liga Champions Wanita.
Untuk mencapai target itu, Tottenham tidak hanya merekrut Hanson, tetapi juga mendatangkan pencetak gol terbanyak West Ham, Shekiera Martinez, bek Prancis Alice Sombath dari Lyon, dan gelandang kreatif Victoria Pelova dari Arsenal. Persaingan ketat untuk tempat di tim utama pun direspons positif oleh Hanson. "Saya sangat bersemangat belajar dari mereka. Saya mungkin bukan yang paling berbakat, tetapi saya punya semangat juang yang tinggi. Saya benar-benar siap berjuang untuk tim," tegasnya.
Kualitas Hanson tidak perlu diragukan. Musim lalu, ia menyumbang 43% dari total gol Villa dan memiliki rasio tembakan tepat sasaran terbaik (50%) di antara lima pencetak gol terbanyak liga. Tak hanya itu, ia juga produktif dalam menciptakan peluang dan aktif dalam bertahan. Dengan kombinasi pengalaman, ketajaman, dan etos kerja, Hanson bisa menjadi kunci sukses Tottenham musim ini. Jika performanya konsisten, bukan tidak mungkin pembelian yang kurang diperhatikan ini akan menjadi yang terbaik di bursa transfer musim panas.
KOMENTAR ()
Kamu harus login untuk ikut berdiskusi.
Login Sekarang