Dunia hijau selalu punya ruang bagi para pemberontak. Di balik keringat, taktik, dan ketatnya aturan klub, beberapa pemain justru memilih hidup di jalur ekstrem dengan gaya rock 'n' roll yang kental. Dilansir dari FourFourTwo, para maverick lapangan hijau ini membuktikan bahwa sepak bola dan musik cadas adalah perpaduan sempurna yang kerap memancing decak kagum sekaligus dahi berkerut dari para pelatih mereka.

Ambil contoh Frank Worthington yang diidolakan banyak suporter karena aksi bengal dan kecintaannya pada Elvis Presley. Penyerang ikonik yang mencetak lebih dari 250 gol ini pernah datang ke pemusatan latihan Timnas Inggris U-23 dengan mengenakan sepatu cowboy. Kisahnya kian liar ketika rencana kepindahannya ke Liverpool batal dua kali akibat tensi darah tinggi yang dipicu gaya hidup bebasnya, termasuk dugaan bersenang-senang dengan lima perempuan berbeda di Majorca atas instruksi manajerial yang berujung keliru.

Tak kalah nyentrik adalah Eric Cantona yang meninggalkan jejak abadi di Manchester United. Saking magisnya di lapangan, musisi Liam Gallagher bahkan sempat berkelakar bahwa King Eric 'merusak hidupnya' di era 90-an karena membela sang rival sekota. Namun, di balik aksi briliannya, tempramen tinggi dan aksi kung-fu ikonik kepada penonton di Selhurst Park membuat kariernya diwarnai kontroversi sebelum akhirnya pensiun dini di usia 30 tahun dengan gaya layaknya seorang bintang rock sejati.

Gaya hidup bebas para pemain ini sering kali menjadi ujian kesabaran bagi para pelatih kepala di klub maupun tim nasional. Mulai dari Guenter Netzer yang nekat menyelinap ke Las Vegas demi menghadiri pernikahan putri Frank Sinatra hingga Pablo Osvaldo yang memilih meninggalkan karier gemilangnya di klub-klub top Eropa demi fokus berkarier di dunia musik bersama band rock miliknya. Mereka adalah anomali di tengah industri sepak bola modern yang sarat aturan.

Meski kerap dianggap sebagai pembuat masalah, para maverick ini justru menghadirkan warna tersendiri yang membuat sejarah sepak bola selalu menarik untuk dikenang. Kebebasan berpikir di atas lapangan yang terbawa hingga ke kehidupan malam, panggung musik, atau jalanan memperlihatkan bahwa sepak bola bukan sekadar olahraga semata, melainkan panggung ekspresi bagi jiwa-jiwa liar yang haus akan kebebasan.