Nama Nicolò Tresoldi mendadak menjadi pusat perhatian penikmat sepak bola Eropa setelah tampil gemilang bersama Club Brugge di panggung Champions League. Striker muda berbakat ini sukses memborong tiga gol sekaligus memastikan kemenangan dramatis 4-3 atas Inter Milan di San Siro. Performa sensasional tersebut bukan sekadar kejutan biasa, melainkan sebuah pembuktian mentalitas baja dari pemain yang sempat dipandang sebelah mata di masa lalu.

Sebelum menjelma sebagai mesin gol yang ditakuti di level kontinental, perjalanan karier penyerang berusia 22 tahun ini diwarnai jalan terjal yang penuh penolakan. Dilansir dari Football Italia, satu-satunya pelatih Marco Bedini yang pernah menangani Tresoldi di tim muda Fontanelle membeberkan fakta mengejutkan. Semasa menginjak usia 12 tahun dan tampil tajam melawan anak-anak yang dua tahun lebih tua, bakatnya justru mentah di tangan klub-klub top Italia.

Bedini mengungkapkan bahwa sang penyerang sempat menjalani masa uji coba di berbagai akademi elite Serie A. Mulai dari Atalanta, AC Milan, Fiorentina, Bologna, hingga Juventus kompak menolak kehadirannya. Alasan klasik yang kerap diterima adalah anggapan bahwa klub-klub tersebut sudah memiliki pemain dengan level setara, sementara aspek postur tubuh Tresoldi dinilai kurang menjulang untuk ukuran seorang penyerang tengah modern.

Kendati sempat dipandang sebelah mata oleh klub-klub semenanjung, takdir membawa keluarganya hijrah ke Jerman pada tahun 2017 akibat karier sang ibunda. Di sinilah titik balik kariernya dimulai ketika ia bergabung dengan akademi muda Hannover 96 pada 2018 sebelum akhirnya melompat ke level tertinggi bersama Club Brugge. Menariknya, kecintaan masa kecilnya pada AC Milan membuat trigol ke gawang rival sekota, Inter Milan, terasa jauh lebih emosional dan membanggakan bagi sang pemain.

Bedini mengenang bahwa ketajaman Tresoldi muda sudah terasah berkat kekaguman mendalam pada sosok legenda hidup, Filippo Inzaghi. Insting penempatan posisi, kemampuan mencetak gol dari berbagai sudut, hingga pergerakan cerdas di kotak penalti merupakan buah dari latihan spesifik yang ia tiru dari sang idola. Kini, setelah membungkam San Siro, masa depan internasional Tresoldi masih menjadi teka-teki terbuka antara memperkuat tim nasional Italia atau Jerman.