Pada 2 November 1994, Manchester United harus menelan pil pahit. Mereka dihancurkan Barcelona 4-0 di Camp Nou dalam laga Liga Champions. Pelatih United, Alex Ferguson, hanya bisa pasrah. "Kami benar-benar dibantai," akunya. "Pada akhirnya, ini pengalaman yang sangat merendahkan."
Bek United, Paul Parker, bahkan sampai sekarang enggan menginjakkan kaki di Camp Nou. Mimpi buruk itu masih membekas. Rekan setimnya, Gary Pallister, juga mengaku syok. "Itu satu-satunya momen dalam karier saya di mana saya harus menerima bahwa saya tidak bisa mendekati lawan sama sekali," kenangnya.
Bintang utama malam itu adalah duet mematikan di lini depan Barcelona: Romario dan Hristo Stoichkov. Romario mencetak satu gol, Stoichkov dua gol—gol keduanya adalah gol ke-100 untuk klub. Ferguson mengakui kecepatan mereka di luar nalar. "United tidak punya jawaban untuk skill, kecepatan, dan imajinasi Stoichkov dan Romario," tulis David Lacey di The Guardian.
Kemenangan telak atas United seolah menjadi peringatan bagi Eropa. Namun, siapa sangka, itu justru menjadi tarian terakhir dari generasi emas Barcelona. Dua bulan kemudian, Romario hengkang. Enam bulan setelahnya, Stoichkov menyusul. Cruyff, Zubizarreta, dan Laudrup pun pergi. Barcelona butuh tiga tahun untuk kembali berjaya.
Romario dan Stoichkov sebenarnya hanya bermain bersama selama satu musim penuh, 1993/94, plus awal musim 1994/95. Namun, dalam waktu singkat itu, mereka menciptakan keajaiban. Romario mencetak 30 gol dalam 33 laga liga, termasuk lima hat-trick. Stoichkov, yang kemudian dinobatkan sebagai Pemain Terbaik Eropa 1994, menjadi mesin gol dari sayap kiri.
Di balik kehebatan mereka, ada konflik yang tak terhindarkan. Stoichkov awalnya menentang kedatangan Romario karena aturan pemain asing. Namun, mereka justru menjadi sahabat dekat. Stoichkov bahkan menjadi wali baptis anak Romario. "Kami seperti malam dan siang, tapi langsung akrab sejak awal," kata Stoichkov. "Kami tidak terpisahkan."
Kisah mereka penuh warna: perkelahian, penculikan ayah Romario, dan gaya hidup sang bintang Brasil yang kontroversial. Romario yang teetotaler justru punya hobi lain: dugem. Ia sering datang latihan dalam kondisi mengantuk. Cruyff pernah mengusirnya dari sesi latihan karena telat.
Perbedaan gaya hidup mulai merenggangkan hubungan mereka. Stoichkov merasa Romario dikelilingi orang-orang yang salah. Setelah Piala Dunia 1994, Romario mangkir dari Barcelona. Ketika kembali, segalanya berubah. "Ia berlatih sendirian dan kami jarang bicara," ujar Stoichkov. "Itu tidak akan pernah sama lagi."
Meski demikian, kenangan akan duet mereka tetap abadi. Romario dan Stoichkov adalah bukti bahwa kejeniusan dan kegilaan bisa berjalan beriringan. Mereka mungkin hanya bersama setahun, tapi dampaknya terasa selamanya.
KOMENTAR ()
Kamu harus login untuk ikut berdiskusi.
Login Sekarang