Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) secara resmi membatalkan rencana kontroversial untuk mengubah jadwal Piala Afrika atau Africa Cup of Nations (Afcon) menjadi empat tahun sekali. Keputusan ini diambil setelah sempat ada pengumuman mengejutkan sepuluh bulan lalu yang berniat menggeser turnamen dari tradisi dua tahunan demi menyelaraskan kalender global. Presiden CAF Patrice Motsepe menyatakan bahwa perubahan arah kebijakan ini didasarkan pada upaya melindungi dan mempromosikan kepentingan sepak bola di benua Afrika.

Sebelumnya, wacana transisi ke siklus empat tahunan pertama kali diumumkan menjelang putaran final Afcon 2025 di Maroko, yang disebut-sebut selaras dengan keinginan badan sepak bola dunia FIFA. Namun, rencana tersebut mendapat penolakan dari sebagian besar asosiasi sepak bola nasional karena Afcon telah lama menjadi lokomotif finansial utama bagi federasi di seluruh benua. Kejuaraan ini menyumbang porsi besar pendapatan CAF, di mana turnamen Maroko 2025 diproyeksikan menghasilkan sekitar Rp3 Triliun, mewakili 66% dari total pendapatan kompetisi secara keseluruhan.

Selain masalah finansial, rencana penggantian turnamen dengan Africa Nations League tahunan juga dinilai kurang realistis dan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dapat berkontribusi secara substansial. Kegagalan proyek ambisius sebelumnya seperti Africa Super League, yang dihentikan hanya setelah satu edisi akibat kesepakatan komersial yang tidak sesuai harapan, menjadi pelajaran tersendiri bagi komite eksekutif CAF. Para jurnalis dan pejabat sepak bola lokal mengkritik proses awal keputusan empat tahunan tersebut karena diambil tanpa melalui perdebatan panjang di rapat umum anggota.

Dalam dinamika politik sepak bola, keputusan membatalkan siklus empat tahunan ini juga tidak lepas dari hubungan erat antara pimpinan CAF dan Presiden FIFA Gianni Infantino yang sedang mencari dukungan politik jelang pencalonan ulang. Pertemuan strategi yang berlangsung di Cape Verde memunculkan dugaan adanya konsesi timbal balik, di mana dukungan benua Afrika terhadap rencana ekspansi FIFA dibarter dengan kembalinya turnamen ke format dua tahunan. Langkah ini membuktikan bahwa negara-negara Afrika tetap memprioritaskan kepentingan domestik mereka di tengah tekanan kalender sepak bola internasional yang semakin padat.

Dengan kembalinya turnamen ke format tradisional, jadwal penyelenggaraan berikutnya tetap akan dilangsungkan pada tahun 2027 yang akan diselenggarakan di Kenya, Tanzania, dan Uganda, disusul edisi 2028. Meskipun tantangan infrastruktur stadion seperti pembangunan Talanta Stadium di Kenya masih memerlukan perhatian serius, CAF memastikan tradisi turnamen terbesar di benua hitam ini tetap terjaga demi keberlangsungan finansial seluruh asosiasi anggota.