Dunia sepak bola Italia dihebohkan dengan kontradiksi aturan komersial yang melibatkan Lazio dan operator pasar prediksi, Polymarket. Keputusan klub ibu kota tersebut untuk memutus kerja sama sponsor jersey senilai sekitar Rp323 Miliar per musim harus kandas di tengah jalan setelah regulator domestik turun tangan.

Badan Bea dan Monopoli Italia, ADM, memblokir akses ke platform tersebut dengan mengategorikannya sebagai judi ilegal. Langkah ini langsung membentur dinding tebal regulasi domestik, yakni Keputusan Martabat Italia yang melarang keras segala bentuk iklan perjudian. Ironisnya, di saat sponsor tersebut dilarang menghiasi jersey klub Serie A di kandang sendiri, otoritas kompetisi justru menjalin aliansi komersial terpisah di Amerika Serikat.

Pada 14 Mei 2026, Serie A USA resmi menunjuk Polymarket sebagai mitra eksklusif mereka di Amerika Serikat. Menurut pengumuman resmi liga, kerja sama regional ini hanya berfokus pada media digital dan konten berbasis data resmi melalui Genius Sports, tanpa melibatkan pencantuman logo di stadion-stadion Italia.

Perbedaan wilayah operasional inilah yang menciptakan celah hukum membingungkan. Dilansir dari Football Italia, kesepakatan liga bersifat regional untuk pasar Amerika, sementara kontrak klub berdampak langsung pada visibilitas domestik yang diawasi penegak hukum setempat.

Meski kontrak kerja sama harus dihentikan pada 11 Agustus, Lazio setidaknya mengamankan kompensasi finansial senilai sekitar Rp161 Miliar untuk musim tersebut. Kasus ini menjadi pengingat keras bagi kontestan Liga Italia lainnya agar lebih jeli membedakan aturan sponsor lokal dan internasional sebelum meneken perjanjian komersial bernilai fantastis.