Ada kontras yang begitu tajam ketika membandingkan perjalanan AC Milan di masa lalu dengan realitas pahit yang mereka hadapi saat ini. Delapan belas tahun lalu, publik Fratton Park di Inggris dibuat terkesima saat kedatangan skuad bertabur bintang raksasa Italia tersebut di ajang Piala UEFA. Malam itu dihiasi oleh deretan legenda lapangan hijau, mulai dari Kaka, Gennaro Gattuso, hingga Filippo Inzaghi di bawah arahan pelatih legendaris Carlo Ancelotti.

Namun, atmosfer megah itu kini tinggal kenangan usai kekalahan 0-3 dari Bournemouth di ajang Liga Europa. Perbedaan paling mencolok terletak pada kualitas materi pemain yang menghuni ruang ganti Rossoneri saat ini. Jika dulu mereka begitu mudah menarik perhatian para bintang dunia di puncak karier mereka, kini klub justru lebih banyak mengandalkan talenta buangan Premier League seperti Fikayo Tomori dan Ruben Loftus-Cheek demi mencari menit bermain reguler.

Dilansir dari FourFourTwo, akar dari kemunduran masif ini bermuara pada satu faktor krusial: kekuatan finansial. Berdasarkan data bursa transfer, nilai skuad Bournemouth kini menyentuh angka sekitar Rp10,6 Triliun (€624 juta), sementara AC Milan berada di kisaran Rp8,5 Triliun (€503,2 juta). Angka tersebut bahkan menempatkan Milan di bawah bayang-bayang klub Inggris dalam daftar Deloitte Football Money League, di mana mereka hanya mampu menduduki peringkat ke-15 dunia dengan pendapatan tahunan sekitar Rp6,9 Triliun (€410,4 juta).

Situasi pelik ini mempertegas pergeseran peta kekuatan sepak bola benua biru dalam dua dekade terakhir. Dominasi kini mutlak dipegang oleh segelintir superklub elit seperti Real Madrid, Barcelona, Bayern Munich, Paris Saint-Germain, serta masifnya gelontoran dana dari klub-klub Premier League. Klub-klub historis seperti Ajax, Benfica, hingga Juventus turut merasakan dampak serupa dari jurang finansial yang kian menganga lebar di kompetisi antarklub Eropa.

Bagi para pencinta Serie A era kejayaan tahun 1990-an, hilangnya aura magis AC Milan tentu meninggalkan lubang emosional yang mendalam di tribun penonton. Atribut ikonik berupa seragam merah-hitam dan sejarah besar di bawah kepelatihan Arrigo Sacchi kini harus berbenturan dengan kenyataan pahit modern. Stadion San Siro yang sarat sejarah pun bersiap dirobohkan, seolah kian mempercepat putusnya tali penghubung antara kejayaan masa lalu dan masa depan klub yang kian abu-abu.