Sorotan tajam mengarah ke kursi kepelatihan tim nasional setelah eksodus dan penolakan sejumlah juru taktik luar negeri. Mantan penggawa Malaysia, Azlan Johar, secara terbuka menyuarakan agar Asosiasi Sepak Bola Malaysia (FAM) menghentikan ketergantungan pada sosok asing dan kembali memercayakan skuad Garuda Asia kepada talenta lokal.

Perdebatan ini mencuat usai laporan yang menyebutkan tawaran dari negeri jiran dikabarkan ditolak oleh pelatih asal Jepang, Hajime Moriyasu. Situasi tersebut membuka mata banyak pihak bahwa reputasi besar di atas kertas tidak serta-merta menjamin kesuksesan instan di level internasional bagi Harimau Malaya dalam mengarungi berbagai ajang kompetisi.

Dilansir dari CNN Indonesia, Azlan menyoroti tingginya biaya serta fasilitas mewah yang digelontorkan untuk pelatih impor tidak sebanding dengan hasil akhir di lapangan hijau. Menurutnya, taktik canggih sering kali runtuh oleh realitas permainan, sementara loyalitas juru taktik asing kerap dipertanyakan ketika tawaran dari klub atau negara lain yang lebih menggiurkan datang menghampiri.

Loyalitas yang minim menjadi poin krusial yang dibahas oleh sang mantan penyerang. Ia menegaskan bahwa banyak pelatih luar negeri mudah meninggalkan posnya begitu tersandung masalah atau tergiur insentif finansial yang lebih tinggi, mengabaikan investasi emosional suporter dan federasi yang telah memanjakan mereka dengan berbagai fasilitas kelas atas.

Sebagai perbandingan telak, sejarah mencatat bahwa kejayaan sepak bola negeri jiran justru lahir dari tangan dingin pelatih lokal berpengalaman seperti Datuk K. Rajagobal dan Datuk Ong Kim Swee. Rekam jejak membuktikan bahwa deretan pelatih asing masa lalu gagal mempersembahkan trofi bergengsi, menjadikan opsi juru taktik pribumi sebagai jalan paling realistis dan membanggakan.