Dulu, namanya begitu diagungkan di Stadion White Hart Lane ketika magisnya bersama Tottenham Hotspur sanggup membius seisi stadion. Datang dari MK Dons sebagai remaja penuh potensi dengan mahar sekitar Rp100 Juta, gelandang berbakat ini menjelma jadi properti paling panas di kancah sepak bola Inggris. Gol-gol indahnya serta kerja sama apik di lini serang membuat suporter tak henti meneriakkan namanya, membuktikan bahwa ia punya masa depan cerah di level tertinggi.

Namun, roda kehidupan berputar cepat dan performanya perlahan meredup seiring masalah cedera hamstring yang menderanya. Situasi kian pelik ketika kursi kepelatihan beralih ke Jose Mourinho, di mana tensi personal sempat terekam dalam dokumenter klub. Dilansir dari FourFourTwo, masalah cedera, pergantian pelatih, hingga beban mental di luar lapangan turut memukul jatuh mentalitas sang pemain yang dulunya dikenal penuh percaya diri dan gaya main flamboyan.

Upaya untuk bangkit lewat petualangan baru di Everton hingga klub Turki Besiktas gagal membuahkan hasil manis karena masalah konsistensi dan kebugaran. Sempat mencoba peruntungan di Italia bersama Como di bawah arahan Cesc Fabregas, ia justru harus menerima kartu merah cepat dalam penampilan perdananya. Rentetan cedera panjang membuat kariernya di level kompetitif terhenti, menyisakan tanya besar dari para pencinta sepak bola yang merindukan aksi terbaiknya di atas lapangan hijau.

Kini, di usianya yang masih menginjak 30 tahun, jalan panjang untuk kembali menemukan sentuhan magis masih terbuka lebar bagi sang gelandang. Meskipun sempat dikaitkan dengan klub-klub kecil seperti Barnet serta aktif melakukan siniar langsung di Twitch bersama rekan lamanya seperti Harry Kane, publik tentu berharap ada akhir bahagia dari kisah naik turun ini. Segala perkembangan di balik layar diharapkan mampu membawanya kembali merumput dan menghidupkan senyuman para fans yang rindu melihatnya bermain bola lagi.