Klub Crystal Palace kini tengah menghadapi tekanan besar dari kelompok hak-hak hewan, Peta, yang mendesak manajemen agar segera menghentikan tradisi penggunaan burung elang hidup sebagai maskot di stadion. Atmosfer stadion yang bising dan penuh sesak penonton dinilai sama sekali bukan tempat yang ideal bagi satwa liar untuk dihadirkan dalam laga-laga Premier League.

Dalam surat terbuka yang dikirimkan kepada CEO klub, Sharon Lacey, pihak Peta meminta agar aksi terbang elang bernama Phoenix di atas rumput Selhurst Park disetop permanen. Sejak mengadopsi julukan The Eagles pada dekade 1970-an, klub asal London ini memang identik dengan simbol burung elang, namun kehadiran maskot hidup baru dimulai secara rutin pada tahun 2010 silam.

Burung elang pendahulu bernama Kayla sempat menghibur suporter selama satu dekade penuh hingga mati pada 2020, sebelum akhirnya digantikan oleh Phoenix yang melakoni debutnya kontra West Ham pada Agustus 2024 lalu. Menurut Peta, lingkungan stadion yang terang benderang dan dipenuhi suporter fanatik membuat burung-burung ini rentan mengalami disorientasi serta kepanikan luar biasa.

Dr. Carys Bennett selaku manajer proyek korporat senior Peta menegaskan bahwa elang botak merupakan lambang kebebasan sejati yang seharusnya tidak dieksploitasi hanya sebagai properti hiburan semata. Terlebih lagi, pihak klub sebenarnya sudah memiliki maskot kostum manusia bernama Pete the Eagle yang jauh lebih aman untuk menghidupkan atmosfer tribun.

Hingga berita ini diturunkan, manajemen klub yang bermarkas di London Selatan tersebut belum memberikan tanggapan resmi terkait desakan penghentian penggunaan satwa hidup. Di tengah ketatnya persaingan Liga Inggris musim ini, isu kesejahteraan hewan ini justru menjadi sorotan tajam di luar aspek teknis lapangan.