Publik sepak bola Inggris sempat bertanya-tanya ketika Brentford mendatangkan bek muda asal Austria, Jannik Schuster, dengan mahar sekitar Rp320 Miliar pada Mei lalu. Jarang yang mengenal sosoknya di level kompetitif Premier League. Namun, semua mata langsung tertuju padanya ketika pemuda berusia 20 tahun itu tampil gemilang dan menyabet predikat man of the match saat Si Lebah membantai Chelsea tiga gol tanpa balas di bawah lampu VAR.

Pelatih kepala Keith Andrews bahkan tidak ragu mengungkapkan kekagumannya selepas pertandingan usai. Ia mengaku langsung jatuh hati sejak pertama kali memantau aksi Schuster bersama RB Salzburg berkat keberanian dan karakternya yang kuat di lapangan. Di balik keputusan berani merekrut sang bek jangkung setinggi 1,93 meter ini, klub memegang teguh aturan saring karakter ketat yang diwariskan era Thomas Frank demi menjaga harmoni ruang ganti.

Tidak tanggung-tanggung, proses investigasi latar belakang pemain dilakukan secara teliti untuk memastikan sang pemain tidak memiliki tabiat buruk yang merusak ritme tim. Latar belakang Schuster yang tumbuh di keluarga atlet elit—ayahnya adalah pelatih juara Olimpiade ski loncat—membentuk mentalitas tangguh dan kedisiplinan tinggi. Faktor inilah yang membuat manajemen yakin keputusannya pindah ke London barat tidak akan salah langkah meski usianya masih sangat belia.

Debut impian di liga terelite Inggris datang lebih cepat dari perkiraan menyusul cedera yang menimpa rekan setimnya. Kesempatan emas tersebut langsung dimanfaatkan dengan baik oleh Schuster untuk mengamankan satu tempat utama di lini pertahanan bersama Kristoffer Ajer. Penampilannya yang tenang, lugas, dan penuh determinasi sukses meyakinkan tim pelatih bahwa investasi senilai jutaan rupiah tersebut sangat sepadan dengan kontribusinya.

Meski sempat diganggu masalah kebugaran dan harus absen akibat sakit, prospek jangka panjang Schuster di klub tetap dipandang sangat cerah. Andrews menegaskan bahwa sang bek belia akan menjadi pilar penting bagi lini belakang tim dalam beberapa tahun ke depan. Kebijakan transfer jitu ini kembali membuktikan bagaimana kecerdasan tim pemantau bakat mampu menemukan permata tersembunyi tanpa harus merogoh kocek terlalu dalam di bursa transfer.