Legenda Manchester United, Ryan Giggs, melontarkan pandangan menarik terkait kultur sepak bola modern yang jauh berbeda dibanding eranya dulu. Pria asal Wales ini mengaku heran melihat para pemain profesional masa kini kerap saling berpelukan di terowongan atau sebelum pertandingan dimulai, sebuah gestur yang dianggapnya sangat asing pada masa kejayaannya di lapangan hijau.

Dalam konferensi pers di Jakarta pada Jumat (9/10), Giggs mengenang bagaimana atmosfer rivalitas keras mendominasi eranya di bawah asuhan Sir Alex Ferguson. Bagi mantan winger lincah tersebut, salaman formal atau sekadar sapaan dingin adalah standar normal ketika menghadapi lawan, kecuali jika ia berhadapan dengan rekan setim atau teman dekat yang sudah dikenal sejak lama.

Dulu, kata Giggs, para penggawa di atas lapangan hijau tidak sungkan memperlihatkan ketidaksukaan satu sama lain demi membela panji kebanggaan masing-masing. Kendati demikian, batasan profesionalisme tetap dijunjung tinggi melalui rasa hormat yang tuntas setelah wasit meniup peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan sengit di kompetisi elite.

Perjalanan panjangnya bersama Setan Merah mencatatkan total 963 penampilan dengan persembahan 168 gol serta 272 assist selama 23 tahun karier profesionalnya. Loyalitas tanpa batas ini sempat membuat Giggs hidup dalam atmosfer kompetitif yang tertutup, di mana mengenal secara personal pemain dari klub rival bukanlah prioritas utama dalam kamus hariannya.

Namun, perspektif itu perlahan berubah semenjak dirinya memutuskan gantung sepatu pada Juli 2014 silam. Melalui berbagai kegiatan amal dan acara legenda, ia justru menikmati momen kebersamaan minum kopi bersama mantan rival seperti Gilberto Silva maupun Robert Pires, yang kini ia akui sebagai sosok-sosok hebat di luar lapangan.