Krisis di Manchester United seolah tidak pernah ada habisnya. Klub raksasa Inggris ini kembali terjebak dalam pusaran performa terburuk dalam 40 tahun terakhir, puncaknya ketika menelan kekalahan telak 4-1 dari Como di ajang Liga Champions. Publik Old Trafford kini menuntut jawaban atas kejatuhan Setan Merah: siapa sebenarnya yang paling harus disalahkan atas situasi mengenaskan ini?
Akar masalah utama kerap diarahkan kepada kepemilikan keluarga Glazer yang telah berlangsung sejak 2005. Pembelian klub melalui skema utang membuat keuangan klub tersedot hingga lebih dari Rp20 Triliun untuk pembayaran bunga dan dividen. Dampaknya sangat nyata pada minimnya investasi infrastruktur, membuat stadion kebanggaan mereka mengalami penuaan dan tertinggal jauh dari klub elite Eropa lainnya. Dilansir dari ESPN FC, dominasi buruk dalam pengelolaan manajemen dan rekrutmen pemain selama bertahun-tahun menjadi fondasi kehancuran Setan Merah.
Masalah kian runyam ketika Sir Jim Ratcliffe masuk sebagai pemilik minoritas dengan memegang kendali operasional sepak bola. Alih-alih membawa kebangkitan instan, kebijakan pemangkasan anggaran dan PHK masif hingga 500 karyawan justru memukul jatuh moral di dalam klub. Belanja pemain yang jauh tertinggal dari rival sekota membuat para suporter geram, ditambah dengan kenaikan harga tiket stadion yang memicu gelombang protes keras dari tribun penonton.
Di level manajemen eksekutif, CEO Omar Berrada dan direktur teknik Jason Wilcox turut menyumbang andil atas kegagalan transfer musim panas ini. Kegagalan mendatangkan penyerang dan bek kiri berbuah kritik terbuka dari pemain bertahan Lisandro Martinez yang menilai standar klub sudah melenceng jauh. Sementara itu, pelatih Michael Carrick terjebak dalam skuad yang rapuh dan tidak seimbang, memicu gesekan taktik di ruang ganti setelah dikritik langsung oleh sang kapten.
Para pemain di atas lapangan pun tidak luput dari sorotan tajam suporter yang menilai kurangnya determinasi serta mentalitas bertanding. Kombinasi rekrutmen gagal dari berbagai era manajer berbeda menghasilkan skuad tambal sulam yang kehilangan karakter pemenang. Hingga saat ini, seluruh elemen klub mulai dari pemilik, manajemen, hingga pemain harus memikul beban tanggung jawab atas runtuhnya kejayaan tim pengoleksi 20 gelar Liga Inggris tersebut.
KOMENTAR ()
Kamu harus login untuk ikut berdiskusi.
Login Sekarang