Drama final Piala Afrika 2025 antara Maroko kontra Senegal akhirnya harus berlanjut ke meja hijau setelah hampir sembilan bulan insiden panas di Stadion Prince Moulay Abdellah, Rabat, berlalu. Mahkamah Arbitrase Olahraga (CAS) dijadwalkan menggelar sidang dengar pendapat terkait banding yang diajukan oleh pihak Senegal demi merebut kembali trofi yang sempat mereka genggam pada Januari lalu. Duel puncak yang disaksikan oleh 66.000 pasang mata pendukung tuan rumah tersebut berubah menjadi kekacauan massal menjelang akhir pertandingan, ketika protes keras dan ketegangan melanda lapangan akibat keputusan kontroversial pengadil lapangan.

Situasi memanas di menit-menit akhir ketika wasit menganulir gol dari Ismaila Sarr dan justru memberikan penalti kepada Maroko lewat tinjauan VAR. Keputusan ini memicu aksi walk-off dari kubu Pape Thiaw yang memerintahkan para pemainnya meninggalkan lapangan. Kendati laga sempat dilanjutkan hingga babak tambahan, kegagalan eksekusi penalti bintang Real Madrid, Brahim Diaz, dan gol penentu dari Pape Gueye sempat membawa Senegal keluar sebagai pemenang dengan skor 1-0.

Namun, perayaan manis tersebut tidak bertahan lama setelah Federasi Sepak Bola Maroko melayangkan protes resmi berlandaskan Pasal 82 regulasi CAF tentang tim yang meninggalkan lapangan tanpa izin. Dewan banding Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) kemudian mengabulkan protes tersebut pada bulan Maret, menjatuhkan sanksi kalah walk-out kepada Senegal dan mengubah skor menjadi kemenangan 3-0 bagi Maroko. Keputusan kontroversial ini membuat federasi Senegal geram dan membawanya ke hadapan Badan Arbitrase Tertinggi Olahraga di Swiss.

Sidang tertutup yang dipimpin oleh panel tiga arbiter berpengalaman ini dipastikan tidak langsung memunculkan vonis pada hari yang sama. Berdasarkan ketentuan hukum CAS, putusan akhir biasanya memakan waktu paling lambat hingga empat bulan ke depan, meski para suporter dan pemerhati sepak bola Afrika menantikan kejelasan status juara turnamen. Dilansir dari BBC Sport, kasus sengketa administratif tingkat tinggi ini mengingatkan publik pada banding serupa yang pernah diajukan klub-klub besar Eropa di masa lalu.

Dampak dari kekacauan final Piala Afrika ini sendiri sudah mengubah lanskap regulasi sepak bola internasional secara permanen. IFAB (Dewan Asosiasi Sepak Bola Internasional) resmi memberlakukan aturan baru yang memberikan kartu merah langsung bagi pemain maupun staf pelatih yang dengan sengaja memprovokasi tim untuk meninggalkan lapangan. Terlepas dari vonis akhir yang akan diketok oleh CAS nanti, relasi kedua negara dipastikan menyisakan ketegangan mendalam di tengah ambisi besar menyambut turnamen kontinental berikutnya.