Kejutan besar tersaji di panggung Brighton & Hove Albion musim ini di bawah komando pelatih muda berbakat. Keberhasilan merangsek ke papan atas klasemen sementara bukan cuma soal ketajaman lini depan, melainkan bagaimana mereka meredam tim-tim raksasa lewat pendekatan bertahan yang sangat tidak biasa.
Dilansir dari BBC Sport, rahasia kokohnya lini belakang Fabian Hurzeler terletak pada keberanian menerapkan pressing man-to-man secara intensif di seluruh area lapangan. Berbeda dari kebanyakan tim Premier League yang cenderung menggunakan zona bertahan atau blok 4-4-2 yang pasif ketika ditekan, skuad asuhan pelatih berusia 33 tahun ini justru aktif memburu lawan sejak dari area pertahanan lawan.
Pendekatan unik ini terlihat jelas ketika mereka sukses meredam tim-tim kuat seperti Manchester City. Ketika lawan mencoba membangun serangan dari kiper, para penyerang Brighton melakukan pressing melengkung (curved run) guna memotong jalur umpan balik, sekaligus menjaga struktur man-to-man di area lainnya tanpa meninggalkan celah berbahaya di lini tengah.
Kunci sukses lainnya dari taktik bertahan ini adalah konsistensi menjaga kelebihan satu pemain atau plus-one di lini belakang. Saat lawan mengirim banyak pemain ke kotak penalti, Brighton dengan sigap membentuk barisan lima bek, memanfaatkan fleksibilitas pemain sayap seperti Maxim de Cuyper yang rajin turun ke bawah untuk meredam pergerakan roaming fullback lawan.
Meski strategi ini terkadang menyisakan satu pemain lawan yang tidak dijaga di area yang jauh dari bola, pergerakan dinamis serta disiplin tinggi membuat lawan kesulitan mencari celah. Kombinasi antara blok tengah yang rapat dan keberanian melakukan pressing ketat menjadikan benteng pertahanan Brighton sebagai salah satu teka-teki paling rumit di Liga Inggris musim ini.
KOMENTAR ()
Kamu harus login untuk ikut berdiskusi.
Login Sekarang