Kabar rencana Everton yang akan kembali dilepas ke pasaran oleh The Friedkin Group kembali menghadirkan kenyataan pahit bagi para pendukung setia. Klub Merseyside ini sejatinya merupakan salah satu raksasa sepak bola Inggris dengan sejarah sembilan gelar liga serta basis suporter fanatik. Namun, di mata investor olahraga modern saat ini, terutama dari grup ekuitas swasta asal Amerika Serikat, profil historis tersebut tidak serta-merta menjadikan mereka sebagai aset finansial yang menarik.

Dilansir dari FourFourTwo, masalah utama yang membuat klub ini kurang diminati terletak pada model keuangannya yang rapuh. Berdasarkan laporan Deloitte’s Annual Review of Football Finance, rasio gaji terhadap pendapatan klub mencapai 79 persen. Pengeluaran masif untuk upah pemain dan staf tanpa margin yang sehat menyisakan ruang gerak yang sangat tipis untuk operasional sehari-hari maupun pelunasan utang stadion baru mereka.

Situasi ini semakin pelik jika dibandingkan dengan pendapatan klub yang stagnan di angka sekitar £197 juta atau setara dengan Rp3,9 Triliun. Angka tersebut menempatkan Everton setara dengan klub-klub London seperti Crystal Palace atau Fulham yang memiliki daya tarik komersial ibu kota jauh lebih tinggi. Bagi konglomerat Amerika, posisi geografis dan daya jangkau global klub London jauh lebih menjanjikan ketimbang harus bersaing di bayang-bayang rival sekota yang jauh lebih dominan di kancah internasional.

Harapan sempat membuncah ketika klub pindah ke stadion modern baru yang digadang-gadang bisa mendongkrak pemasukan dari tiket dan komersial. Sayangnya, kepindahan tersebut dibarengi beban utang konstruksi yang masif, dengan estimasi utang bersih mencapai £380 juta atau sekitar Rp7,6 Triliun. Calon pembeli tidak hanya harus merogoh kocek di kisaran £800 juta atau sekitar Rp16 Triliun untuk mengambil alih kepemilikan, tetapi juga mewarisi tumpukan kewajiban finansial yang menggunung.

Komplikasi berlanjut ke aspek teknis di atas lapangan, di mana skuad utama saat ini tercatat sebagai salah satu yang paling ramping di Premier League. Penjualan pemain bintang di bursa transfer sebelumnya membuat kekuatan tim tergerus tanpa adanya cadangan dana memadai untuk belanja pemain baru. Tanpa status global, pendapatan stabil, atau posisi strategis di ibu kota, jalan panjang dan berliku kini harus dihadapi oleh klub dalam mencari penyelamat baru.