Dunia sepak bola internasional sedang memanas. Gosip soal rencana Presiden FIFA, Gianni Infantino, untuk memisahkan unit komersial FIFA dan menjualnya ke investor eksternal yang dipimpin Josh Kushner, rupanya memicu gelombang perlawanan yang serius. Dua setengah pekan setelah kabar itu mencuat, tekanan terhadap Infantino justru semakin menjadi-jadi, bahkan sejumlah konfederasi besar mengancam akan memboikot turnamen FIFA.
Usulan yang dikenal sebagai FIFA Forward Enterprise (FFE) itu memang sudah ditarik kembali pada 1 Agustus lalu. Namun, efeknya seperti bola salju yang menggelinding. UEFA, CONCACAF, dan AFC secara terang-terangan menyatakan kekecewaan, bahkan UEFA sampai mengancam akan memboikot kompetisi FIFA mulai Piala Dunia U-20 Wanita di Polandia bulan depan. Di tengah hiruk-pikuk ini, pertanyaan besarnya adalah: akankah Infantino bertahan hingga pemilihan Maret 2027?
Menariknya, lawan-lawan Infantino tidak mau menunggu sampai bulan Maret. Mereka ingin menyingkirkannya sekarang. Ada beberapa alasan. Pertama, momentum dan sentimen anti-Infantino sedang tinggi-tingginya. Kedua, memberi waktu bagi Infantino untuk berkampanye sama saja dengan memberi kesempatan bagi musuh untuk bangkit. "Seminggu adalah waktu yang lama dalam politik," kata pepatah, dan itu berlaku juga di politik olahraga. Infantino dikenal sebagai operator yang licin dan punya banyak akal untuk memenangkan dukungan.
Namun, bagaimana cara menjatuhkannya? Ada beberapa jalur yang bisa ditempuh. Ia bisa mengundurkan diri, tapi itu tampaknya mustahil. Ia juga bisa disuspensi atau dilarang oleh Komite Etik FIFA, tapi prosesnya lambat dan belum tentu efektif. Opsi lainnya adalah mosi tidak percaya, yang membutuhkan dukungan setidaknya 20% anggota FIFA atau 43 negara. Tapi, prosesnya rumit dan baru bisa digelar tiga bulan setelah permintaan resmi diajukan. Jadi, kemungkinan besar baru bisa dilakukan paling cepat November, dan itu pun belum tentu berhasil.
Kenapa banyak anggota FIFA yang ragu untuk menjatuhkannya? Ini soal kelangsungan hidup. Banyak federasi kecil yang sangat bergantung pada dana FIFA untuk membiayai operasional mereka. Mereka tidak mau mengambil risiko melawan orang yang memegang kendali keuangan. Mereka lebih memilih untuk mendukung pemenang, dan itu artinya mereka akan menunggu sampai menit terakhir sebelum memutuskan arah dukungan. Bahkan di dalam konfederasi yang berseberangan dengan Infantino, seperti AFC, tidak semua anggota sejalan dengan pimpinan konfederasinya. Mereka lebih banyak menerima dana dari FIFA daripada dari konfederasi mereka sendiri.
Lobi pun kini berjalan sengit. Infantino tentu tidak tinggal diam. Ia akan berkeliling dunia untuk memperkuat basis dukungannya, terutama di Afrika dan Amerika Selatan yang dianggap sebagai bentengnya. Sementara itu, oposisi juga gencar melakukan pendekatan ke anggota FIFA. Ada dua pemain besar yang hingga kini masih bungkam dan bisa mengubah peta politik: Arab Saudi dan klub-klub besar Eropa. Arab Saudi, yang sudah menggelontorkan dana besar ke FIFA dan menjadi tuan rumah Piala Dunia 2034, masih menjadi tanda tanya apakah mereka akan tetap mendukung Infantino. Sementara klub-klub seperti Manchester United dan Real Madrid punya pengaruh besar karena mereka adalah mesin uang sepak bola dunia.
Potensi pertumbuhan pendapatan FIFA di masa depan ada pada Piala Dunia Antarklub. Edisi perdana yang baru saja selesai di Amerika Serikat disebut-sebut menghasilkan keuntungan hingga $126 juta. Tapi, angka itu bisa menyesatkan karena ditopang oleh kesepakatan dengan DAZN dan sponsor dari PIF. FIFA juga harus membayar hadiah besar ke klub-klub Eropa agar mau berpartisipasi. Klub-klub besar sadar akan posisi tawar mereka. Mereka sudah membuktikannya di UEFA dengan membentuk usaha patungan UC3 untuk memasarkan hak siar Liga Champions. Jangan heran jika mereka akan melakukan hal serupa untuk Piala Dunia Antarklub, baik pria maupun wanita.
Jika klub-klub besar angkat bicara, itu bisa menjadi penentu. Mereka bisa menggerakkan basis penggemar mereka di seluruh dunia, menekan sponsor, dan bahkan memengaruhi asosiasi anggota. Baik Infantino maupun lawan-lawannya pasti sudah mencoba merayu klub-klub tersebut di belakang layar. Kecuali Real Madrid, sebagian besar klub besar masih bungkam. Tapi, begitu mereka angkat bicara, peta persaingan bisa berubah drastis. Satu hal yang pasti: pertarungan memperebutkan kursi presiden FIFA ini masih jauh dari selesai.
KOMENTAR ()
Kamu harus login untuk ikut berdiskusi.
Login Sekarang