Menyaksikan jajaran skuad mentereng seperti Thibaut Courtois, Vincent Kompany, hingga Kevin De Bruyne berkumpul dalam satu era tentu memunculkan ekspektasi tinggi. Belgia pada akhir dekade 2010-an sempat menjelma menjadi salah satu kekuatan paling ditakuti di panggung sepak bola internasional, meski hingga kini lemari trofi mayor mereka masih hampa gelar. Namun, pencapaian di Piala Dunia 2018 tetap meninggalkan memori mendalam bagi para penggawanya, termasuk sang bek tangguh yang merasa perjuangan mereka layak diapresiasi lebih tinggi oleh publik.
Langkah gemilang Setan Merah di Rusia bermula dari fase grup ketika mereka menyapu bersih Grup G di atas Inggris, Tunisia, dan Panama tanpa kehilangan satu poin pun. Gelontoran sembilan gol membuat lini serang mereka menjadi yang paling produktif di fase grup, ditandai dengan ketajaman Eden Hazard dan Romelu Lukaku yang tampil luar biasa. Ujian mental sesungguhnya datang pada babak 16 besar saat tertinggal dua gol lebih dulu dari Jepang sebelum akhirnya bangkit secara dramatis lewat gol kemenangan Nacer Chadli di menit ke-94.
Puncak performa pasukan Roberto Martinez tersaji di perempat final ketika mereka menyingkirkan raksasa Amerika Selatan, Brasil, dengan skor 2-1 di Kazan. Dilansir dari FourFourTwo, Toby Alderweireld mengenang momen krusial tersebut sebagai salah satu pencapaian terbaik dalam karier profesionalnya. Mantan bek tengah itu sukses meredam pergerakan agresif Neymar yang saat itu berada di puncak performa, memastikan Brasil tak berkutik dan membawa negaranya melangkah jauh.
Sayangnya, impian mengangkat trofi piala dunia harus kandas di tangan Prancis lewat kekalahan tipis 1-0 di babak semifinal. Kendati demikian, generasi emas ini menutup turnamen dengan kepala tegak usai kembali mengalahkan Inggris dalam perebutan tempat ketiga untuk mengamankan medali perunggu. Bagi Alderweireld dan rekan-rekannya, sejarah yang mereka ukir di Rusia membuktikan bahwa permainan mereka termasuk salah satu yang terbaik sepanjang turnamen.
Hingga saat ini, rasa penasaran itu rupanya masih membekas di benak sang pemain bertahan. Kegagalan merengkuh trofi juara membuat salah satu pilar lini belakang tersebut merasa bahwa generasi emas Belgia sebenarnya pantas mendapatkan akhir yang jauh lebih manis atas kerja keras yang mereka curahkan di lapangan hijau.
KOMENTAR ()
Kamu harus login untuk ikut berdiskusi.
Login Sekarang