Menangani klub besar yang sedang goyah memang bukan pekerjaan mudah, sebuah realitas yang sangat dipahami oleh mantan manajer kawakan. Tantangan inilah yang dihadapi oleh Michael Carrick saat dipercaya menjadi manajer interim Manchester United pada Januari lalu, di tengah situasi klub yang kian merosot ke papan tengah. Sempat membawa Setan Merah finis di zona Liga Champions musim lalu dengan performa yang menjanjikan, badai kenyataan kini kembali menghantam Old Trafford usai kekalahan memalukan 4-1 dari Como.

Masalah yang mendera United saat ini jauh lebih dalam daripada sekadar sosok juru taktik di pinggir lapangan. Dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir, manajemen telah menghabiskan dana masif hingga melampaui £1 Miliar untuk mendatangkan puluhan pemain di bawah era kepelatihan sebelumnya. Bahkan di tahun ini, tambahan sekitar Rp3 Triliun digelontorkan untuk memperkuat lini tengah. Namun, jika dinilai secara objektif, komposisi skuad saat ini menyisakan tanda tanya besar mengenai seberapa banyak pemain yang benar-benar sesuai dengan visi sang manajer.

Situasi semakin pelik ketika mengamati pembelaan diri di ruang ganti, termasuk kritik terbuka dari bek Lisandro Martinez terhadap strategi perekrutan klub. Komentar tersebut memunculkan pertanyaan mendasar mengenai mentalitas pemain yang kerap merasa sudah sukses alih-alih mawas diri sebagai bagian dari masalah. Tekanan kian menumpuk di pundak Carrick ketika ia harus menghadapi komentar sang kapten pasca kekalahan di Italia, yang dinilai tidak mencerminkan jiwa kepemimpinan sejati di saat tim sedang terpuruk.

Melihat kompleksitas masalah warisan transfer dan ego pemain, mendepak manajer lagi bukanlah solusi instan bagi Setan Merah. Sebagai perbandingan, klub harus meniru blueprint rival abadi mereka yang sabar membangun fondasi jangka panjang di bawah tekanan berat. Stabilitas dan waktu adalah harga mati yang harus dibayar jika klub ingin kembali kompetitif di level tertinggi sepak bola Inggris.