Trevoh Chalobah resmi meninggalkan Chelsea setelah hampir 20 tahun berseragam biru. Bek asal Inggris itu memilih bergabung dengan Como 1907 pada bursa transfer musim panas ini, menandai babak baru dalam kariernya yang penuh lika-liku.

Perjalanan Chalobah di Chelsea tidak pernah mulus. Ia sempat menangis di dalam mobil karena merasa tidak cukup baik saat bermain bersama Mason Mount dan Declan Rice di akademi Cobham. Pada 2024, ia bahkan dicoret dari latihan tim utama oleh pelatih Enzo Maresca dan dijuluki sebagai bagian dari "bomb squad", sebelum akhirnya dilepas dengan status pinjaman.

Namun, setiap kali dihadapkan pada rintangan, Chalobah selalu bangkit. Ia dipanggil kembali dari masa pinjaman di Crystal Palace pada Januari 2025 dan total mencatatkan 151 penampilan untuk The Blues sebelum pindah ke Italia dengan nilai transfer sekitar £31 juta (sekitar Rp620 miliar) pekan lalu. Pelatih Cesc Fabregas menjadi sosok kunci yang meyakinkannya untuk bergabung dengan Como.

Chalobah mengaku bahwa resiliensi adalah keunggulan utamanya. "Itu adalah salah satu atribut dan keahlian saya, bangkit dari keterpurukan dan tidak membiarkan apa pun mempengaruhi saya," ujarnya dari kamp pramusim Como di Teddington, London Barat Daya. "Tidak hanya di sepak bola, dalam hidup, hal-hal akan terjadi yang kadang di luar kendali kita."

Perubahan kepemilikan Chelsea dari Roman Abramovich ke Todd Boehly dan Clearlake Capital pada 2022 menjadi titik balik besar. Hampir semua pemain dijual dan pemain baru didatangkan dalam dua tahun yang kacau. Meski begitu, Chalobah tidak menyimpan dendam. "Saya selalu ingin bermain untuk Chelsea apa pun kondisinya. Saya bersyukur atas setiap kemunduran, setiap tantangan, setiap trofi yang saya menangkan," katanya.

Karier Chalobah juga tidak lepas dari campur tangan Thomas Tuchel, pelatih yang memberinya debut di Chelsea dan memanggilnya ke Piala Dunia 2026 sebagai pengganti Tino Livramento yang cedera. Turnamen itu berakhir dengan medali perunggu setelah Inggris mengalahkan Prancis 6-4 dalam perebutan tempat ketiga. "Tidak ada yang ingin finis ketiga. Kami hanya selangkah lagi dari final," kenangnya.

Kini, Chalobah siap memulai petualangan baru di Como yang dalam dua musim berhasil naik dari Serie B ke Liga Champions. "Ini bukan keputusan instan, ini keputusan yang penuh pertimbangan. Saya sangat bersemangat untuk babak baru dalam kisah indah saya ini," tutupnya.