Ada perasaan gemas yang menggelayuti publik di Hayes Lane ketika London City Lionesses harus menelan pil pahit kekalahan tipis dari sang juara bertahan Manchester City. Bagaimana tidak, tim yang baru delapan belas bulan lalu masih berkutat di kasta kedua ini tampil begitu dominan dan membombardir pertahanan lawan sepanjang pertandingan. Kehadiran megabintang peraih Ballon d'Or, Alexia Putellas, yang bergabung pada musim panas ini semakin menegaskan bahwa proyek ambisius klub bukan sekadar gertakan sambal di sepak bola wanita.
Meski tampil menggebrak dan melepaskan tidak kurang dari 24 tembakan ke arah gawang, dominasi tuan rumah justru mentah di tangan pengalaman. Tim tamu menunjukkan kelasnya lewat efektivitas tingkat tinggi ketika Khadija Shaw dan Lauren Hemp sukses memanfaatkan celah melawan arus permainan untuk mengunci kemenangan 2-1. Pelatih Eder Maestre tak bisa menyembunyikan rasa frustrasinya usai laga melihat bagaimana timnya kehilangan ketenangan di momen-momen krusial, sebuah pembeda utama antara tim mapan dan penantang gelar baru.
Di sisi lain, bos Manchester City, Andree Jeglertz, memuji kualitas permainan lawan yang disebutnya sudah berada di level tertinggi. Namun, ia juga menekankan bahwa kunci bertahan di puncak klasemen adalah konsistensi pekan demi pekan yang hanya bisa diasah melalui kematangan mental. Kegagalan mengonversi rentetan peluang emas menjadi gol membuat skuad bertabur bintang asuhan Maestre ini harus belajar banyak tentang cara membunuh pertandingan di Women's Super League.
Ambisi besar klub milik pengusaha asal Amerika Serikat, Michele Kang, untuk menembus Liga Champions kini mendadak terasa masuk akal ketimbang sekadar mimpi di siang bolong. Dilansir dari BBC Sport, manajemen klub bahkan sudah memikirkan langkah-langkah struktural untuk mengatasi aturan UEFA terkait kepemilikan multi-klub dengan Lyon jika mereka benar-benar finis di zona Eropa musim ini. CEO klub, Martin Semmens, menegaskan bahwa mereka ingin berada dalam percakapan serius untuk bersaing sejajar dengan raksasa Benua Biru.
Performa impresif ini setidaknya telah membuktikan bahwa jurang pemisah antara tim tradisi papan atas dan kekuatan baru mulai terkikis perlahan. Tantangan terbesar berikutnya bagi skuad asuhan Eder Maestre bukan lagi soal apakah mereka bisa mengimbangi tim elite, melainkan seberapa konsisten mereka meramu hasil positif dalam sisa musim yang masih panjang.
KOMENTAR ()
Kamu harus login untuk ikut berdiskusi.
Login Sekarang