Waktu terus berjalan, dan hitungan mundur menuju akhir pekan ini menandai sebuah periode panjang yang ingin segera dilupakan oleh publik London Utara. Sudah 616 hari lamanya Tottenham Hotspur absen merasakan manisnya meraih tiga kemenangan beruntun di ajang Premier League. Pergantian tiga manajer berbeda silih berganti menghiasi kursi kepelatihan tanpa mampu memecahkan kutukan minor tersebut, hingga akhirnya tongkat estafet kini berada di tangan pelatih anyar.

Dilansir dari Sky Sports, manajer Roberto De Zerbi berada di ambang sejarah kecil usai membawa timnya mengemas kemenangan beruntun atas Coventry City dan Chelsea jelang duel kontra Crystal Palace. Tren positif ini bukan sekadar mendongkrak posisi mereka ke paruh atas klasemen sementara, tetapi juga menjadi vitamin penawar luka bagi mentalitas skuad yang kerap rapuh di musim-musim sebelumnya.

Transformasi paling mencolok di bawah kepemimpinan juru taktik asal Italia tersebut adalah kedisiplinan dan struktur permainan yang jelas. Dengan menerapkan skema pressing ketat man-to-man, statistik membuktikan bahwa sejak bulan Maret lalu, hanya ada tiga tim yang mampu mencatatkan high turnovers dan perebutan bola di sepertiga akhir lapangan lebih banyak daripada klub yang bermarkas di stadion megah ini. Pendekatan taktik terstruktur tersebut mulai mengikis kebiasaan lama tim yang kerap menghancurkan peluang mereka sendiri lewat blunder fatal.

"Kami telah menderita cukup lama," ujar De Zerbi usai menaklukkan Chelsea di Stamford Bridge tanpa kebobolan, sebuah catatan cleansheet tandang atas rival london tersebut yang sudah sangat langka. Konsistensi menjadi harga mati jika pelatih berusia matang itu ingin membuktikan bahwa revolusi gaya bermainnya bukan sekadar angin lalu. Kehadiran gelandang kreatif James Maddison di lini tengah terbukti menjadi pembeda krusial, di mana perolehan poin tim meroket tajam setiap kali sang kreator serangan tampil penuh.

Lonjakan performa fisik juga terlihat dari data statistik lari pemain yang meningkat drastis dalam tiga laga terakhir, disertai efektivitas konversi gol yang melompat dari 2,8 persen menjadi 14 persen. Ketangguhan lini belakang dalam meredam peluang lawan kian melengkapi puzzle kebangkitan The Lilywhites. Kini, ujian sesungguhnya menanti di depan mata untuk memastikan kutukan 616 hari benar-benar terkubur di bawah era baru yang penuh ambisi.