Legenda Arsenal, Thierry Henry, akhirnya membeberkan alasan kuat di balik keputusannya untuk tidak turun ke lapangan hijau saat menghadapi para mantan bintang Manchester United di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta. Alih-alih berlari menggebrak lini pertahanan lawan seperti masa jayanya dulu, pria asal Prancis itu memilih untuk memimpin rekan-rekannya dari pinggir lapangan sebagai juru taktik.
Pertandingan eksibisi yang mempertemukan para legenda klub Premier League tersebut tetap berjalan sengit meski tanpa kehadiran sang penyerang mematikan di atas rumput hijau. Pasukan Meriam London sukses mengamankan kemenangan tipis 3-2 berkat kontribusi gol dari Emmanuel Adebayor, Santi Cazorla, serta Jermaine Pennant yang sukses merobek jala gawang lawan di hadapan publik ibu kota.
Keputusan untuk menepi dan mengenakan rompi pelatih ternyata bukan tanpa alasan medis yang jelas bagi peraih Piala Dunia tersebut. Sinyal bahaya langsung dikirimkan oleh tubuhnya sendiri ketika ia bersiap untuk laga amal ini, membuat opsi untuk bermain sama sekali tidak masuk akal demi menghindari cedera yang lebih parah di usia senja para mantan atlet.
"Bagi saya sederhana saja: otot hamstring saya yang meminta saya menjadi pelatih. Jadi itu keputusan yang sangat mudah. Tubuh saya memberi sinyal bahwa saya harus melakukannya," ujar Henry kepada awak media, menjelaskan bagaimana kondisi fisiknya memaksa ia merelakan kesempatan bermain di hadapan suporter setia Indonesia.
"Jadi, saya tetap ingin berada di sini, ingin hadir dan melihat Jakarta serta semua orang di sini, tetapi hamstring saya menyarankan bahwa sebaiknya saya berada di bangku cadangan," sambungnya mengenang atmosfer hangat Stadion Utama Gelora Bung Karno yang menyambut antusias kedatangan para bintang lapangan hijau era 2000-an tersebut.
Tidak hanya Henry, situasi serupa juga dialami oleh kubu lawan di mana Dwight Yorke turut mengambil peran sebagai pelatih tim legenda Manchester United. Faktor usia serta regenerasi peran membuat para mantan bintang lapangan ini lebih arif mendengarkan kondisi fisik mereka ketimbang memaksakan nostalgia di atas lapangan.
KOMENTAR ()
Kamu harus login untuk ikut berdiskusi.
Login Sekarang