Tekanan hebat kini tengah menghantam Michael Carrick setelah kekalahan 2-0 dari Chelsea akhir pekan lalu memperpanjang tren negatif Setan Merah. Posisi Manchester United di klasemen Premier League terpuruk di peringkat ke-17 setelah hanya mampu mengumpulkan tujuh poin dari sembilan pertandingan awal musim ini.

Situasi pelik ini mengingatkan publik Old Trafford pada memori kelam masa lalu ketika mereka terakhir kali merasakan zona merah di fase awal musim pada November 1986 silam. Rekor buruk kian menumpuk dengan catatan sembilan pertandingan beruntun tanpa kemenangan di semua kompetisi, sebuah periode paceklik terpanjang yang belum pernah mereka rasakan lagi sejak musim 1988-1989.

Meski secara matematis dan finansial dengan proyeksi pendapatan di atas £700 juta atau sekitar Rp14 Triliun kecil kemungkinan klub sebesar United benar-benar terlempar dari kasta tertinggi, rentetan hasil buruk ini tidak boleh diabaikan begitu saja. Carrick dituntut untuk segera memutar balik keadaan dan mengubah mentalitas ruang ganti agar tim bisa segera merangksek naik menjauhi papan bawah klasemen sementara.

Ujian berat berikutnya sudah menanti di depan mata saat menjamu Aston Villa di Old Trafford. Situasi tim dipastikan semakin pincang menyusul kartu merah yang diterima oleh Lisandro Martinez di Stamford Bridge, yang membuat sang bek harus absen akibat sanksi larangan bertanding.

Kondisi finansial klub yang masih memikul beban utang senilai £1,15 miliar atau sekitar Rp23 Triliun serta rencana proyek stadion baru tentu akan menghadapi guncangan mahakuasanya jika skenario terburuk benar-benar terjadi. Untuk saat ini, fokus utama skuad asuhan Carrick adalah memutus rantai hasil minor dan kembali merasakan manisnya tiga poin penuh di liga.