Presiden Como, Mirwan Suwarso, membuat keputusan langka menjelang laga bersejarah melawan Bayer Leverkusen di Liga Champions. Ia rela menyerahkan kursi VIP miliknya dan jajaran direksi untuk diberikan kepada para suporter tertua klub, mereka yang lahir pada 1950 atau sebelumnya. Stadion Giuseppe Sinigaglia yang baru direnovasi akan dipenuhi aura berbeda: bukan konglomerat atau tamu korporat, melainkan mereka yang setia mendukung Como dari divisi terendah hingga menembus Eropa.
Como sendiri telah melalui perjalanan luar biasa. Setelah bangkrut pada 2017 dan terpuruk di Serie D, klub ini bangkit usai diakuisisi grup Djarum pada 2019. Di bawah kendali orang terkaya di sepak bola Italia itu, Como perlahan menapaki tangga kompetisi. Puncaknya, pada 2024 mereka promosi ke Serie A setelah 21 tahun absen. Kini, di bawah asuhan Cesc Fabregas, Como finis di empat besar dan mengamankan tiket otomatis ke Liga Champions. Laga Kamis nanti akan menjadi debut mereka di kompetisi antarklub Eropa sejak Mitropa Cup 1980/81.
Keputusan Suwarso ini bukan sekadar gestur simbolis. Dalam pernyataan resminya di media sosial, ia mengungkapkan bahwa stadion sudah sold out, dan tiket yang tersedia sangat terbatas. "Beberapa direktur klub dan saya memutuskan untuk memberikan kursi kami untuk pertandingan ini. Kami ingin kursi itu diberikan kepada fans yang telah menunggu paling lama: pendukung yang lahir pada 1950 atau lebih awal, yang mengikuti Como di setiap divisi dan setiap era," tulisnya. Ia bahkan mengajak siapa pun yang mengenal fans setia tersebut untuk mengirim email ke alamat yang disediakan.
Langkah ini mendapat apresiasi luas dari publik sepak bola Italia. Di saat klub-klub elite kerap mengutamakan keuntungan komersial, Como justru mengingat akar sejarahnya. Como ingin memastikan bahwa mereka yang pernah menyaksikan klub berlaga di kompetisi non-liga, kini bisa duduk di kursi terbaik saat tim kesayangan bertarung di panggung tertinggi Eropa. Ini adalah bentuk penghormatan kepada loyalitas yang tak tergoyahkan.
Dari sisi performa, Como tidak bisa dipandang sebelah mata. Musim lalu, mereka tampil mengejutkan dengan finis di posisi empat besar Serie A, sebuah prestasi yang melampaui ekspektasi. Fabregas, yang juga memiliki saham minoritas di klub, berhasil meracik tim yang solid dan disiplin. Kehadiran investor ternama seperti Thierry Henry dan Raphael Varane di jajaran direksi menambah bobot proyek ini. Kini, tantangan baru menanti: bersaing dengan raksasa Eropa di Liga Champions.
Laga melawan Leverkusen akan menjadi ujian sesungguhnya. Namun, apa pun hasilnya, malam itu akan menjadi momen bersejarah bagi Como dan para fansnya. Kursi VIP yang biasanya diduduki para eksekutif kini akan diisi oleh mereka yang pernah menangis saat klub terdegradasi, yang setia menyanyikan yel-yel di stadion kecil, dan yang kini bisa menyaksikan timnya berlaga di kompetisi paling bergengsi di Eropa. Sebuah kisah dongeng yang nyata.
Bagi sepak bola Indonesia, nama Djarum Group dan Mirwan Suwarso tentu menjadi kebanggaan tersendiri. Kepemilikan Indonesia di klub Italia ini membawa angin segar, tidak hanya dari sisi investasi tetapi juga nilai-nilai kemanusiaan. Gestur Suwarso menunjukkan bahwa sepak bola tetap milik para penggemar sejati. Como telah membuktikan bahwa kesuksesan di lapangan bisa berjalan seiring dengan menghargai sejarah dan loyalitas.
KOMENTAR ()
Kamu harus login untuk ikut berdiskusi.
Login Sekarang