Liga-liga top Eropa meningkatkan tekanan hukum terhadap FIFA. European Leagues, yang mewakili 53 divisi profesional termasuk Premier League, resmi memperluas cakupan keluhan mereka ke Komisi Eropa dengan menambahkan tuduhan "perilaku kasar" FIFA terhadap sepak bola wanita. Langkah ini menjadi babak baru dalam konflik antara operator liga dan badan pengatur dunia.
Keluhan awal dilayangkan pada Oktober 2024 untuk melindungi kesejahteraan pemain pria. European Leagues menuding FIFA menyalahgunakan posisi dominan di bawah hukum kompetisi Eropa karena tidak melibatkan liga nasional dan serikat pemain dalam penyusunan kalender internasional pria yang diumumkan pada 2023. Kini, fokus diperluas ke kalender pertandingan internasional wanita dan keputusan regulasi terkait.
Dalam pernyataan resminya, European Leagues menyoroti dampak serius. "Perilaku FIFA mengancam pertumbuhan dan keberlanjutan finansial liga profesional wanita, serta berisiko terhadap kesehatan dan kesejahteraan pemain," tulis mereka. Mereka menuntut Komisi Eropa bertindak memastikan hukum Uni Eropa dihormati dan masa depan sepak bola wanita profesional tidak ditentukan secara sepihak oleh FIFA.
European Leagues juga menuding adanya pola konflik kepentingan yang sama seperti pada sepak bola pria. FIFA dianggap memegang peran ganda sebagai badan pengatur dan penyelenggara kompetisi, yang kemudian memanfaatkan kekuatan regulasinya untuk menguntungkan kompetisi dan kepentingan komersial sendiri, merugikan liga nasional Eropa dan perkembangan sepak bola wanita.
Sementara itu, serikat pemain global FIFPro yang semula ikut dalam keluhan awal telah menarik diri. Keputusan ini diambil setelah FIFA pada Juni lalu setuju untuk bernegosiasi mengenai isu kalender pertandingan. European Leagues menyambut baik langkah tersebut, namun tetap melanjutkan aksi hukum mereka.
Pada Juni, European Leagues menerima 14 divisi wanita ke dalam barisan mereka, termasuk Women's Super League dan Scottish Women's Premier League. Langkah ini menegaskan komitmen mereka untuk memperjuangkan kepentingan sepak bola wanita di tengah meningkatnya kekhawatiran tentang jadwal yang padat dan beban pemain.
Menanggapi gugatan tersebut, juru bicara FIFA menyatakan keyakinan pada dialog ketimbang aksi hukum. "FIFA percaya pada kekuatan dialog, dan pintu kami selalu terbuka untuk mencapai kesepakatan demi kepentingan terbaik sepak bola," ujarnya. FIFA juga mengklaim kesepakatan penting dengan FIFPro awal tahun ini menghasilkan reformasi sistem transfer global yang disetujui semua pemangku kepentingan. Terkait sepak bola wanita, FIFA berkomitmen memperluas dan mengidentifikasi pemangku kepentingan baru menjelang pembicaraan kalender Maret mendatang.
Kasus ini mencuat di tengah sorotan tajam terhadap FIFA dan presidennya, Gianni Infantino, setelah rencana kontroversial menjual saham kompetisi ke investor swasta memicu protes global. UEFA sempat mengancam memboikot semua kompetisi FIFA, termasuk Piala Dunia, sebelum akhirnya mencabut ancaman itu setelah mendapat jaminan. Meski tekanan dari berbagai konfederasi terus mengalir, Infantino dikabarkan tetap maju untuk pemilihan kembali sebagai presiden pada Maret 2026, mengejar masa jabatan ketiga hingga 2031.
KOMENTAR ()
Kamu harus login untuk ikut berdiskusi.
Login Sekarang