Badai kritik tengah menghantam Juventus setelah rentetan hasil minor di awal musim Serie A. Tekanan hebat mengarah kepada sang pelatih menyusul kekalahan telak tiga gol tanpa balas dari Lazio di kandang sendiri. Situasi ini membuat Bianconeri tertinggal delapan poin dari pemuncak klasemen hanya dari tujuh pertandingan perdana musim 2026-2027.

Kondisi ruang ganti juga sempat memanas akibat kemarahan terbuka dari bek tangguh Bremer selepas pertandingan. Pemain belakang tersebut secara blak-blakan menuding beberapa rekan setimnya tampil penakut dan bersembunyi dari tanggung jawab di atas lapangan. Meski demikian, laporan terbaru menyebutkan bahwa manajemen klub masih memberikan kepercayaan penuh kepada pelatih, sementara sang bek dikabarkan telah meminta maaf kepada rekan-rekannya.

Gianluigi Buffon
Gianluigi Buffon saat diwawancarai media Italia. (Sumber: Football Italia)

Legenda hidup Bianconeri, Gianluigi Buffon, angkat bicara mengenai situasi pelik yang sedang mendera mantan klubnya. Dilansir dari Football Italia melalui wawancaranya dengan La Gazzetta dello Sport, Buffon mengaku sangat memahami alasan di balik ledakan emosi Bremer di ruang ganti. Menurutnya, tindakan tersebut merupakan reaksi naluriah seorang pemain yang peduli pada kondisi tim, sesuatu yang juga sering ia lakukan semasa aktif bermain.

Di sisi lain, mantan kiper tim nasional Italia itu menyoroti badai cedera yang membelit skuad sebagai akar masalah performa menurun Si Nyonya Tua. Absennya sejumlah pilar penting seperti Kenan Yildiz, Manuel Locatelli, hingga Khephren Thuram dinilai sangat memukul kestabilan tim. Buffon menyamakan kehilangan para pemain kunci tersebut seperti timnas Italia yang kehilangan legenda-legenda besar di masa lalu.

Lebih lanjut, Buffon menegaskan bahwa memecat juru taktik bukanlah solusi instan bagi permasalahan klub. Ia mencatat fakta bahwa pemecatan lima pelatih dalam kurun waktu empat tahun terakhir membuktikan bahwa masalah utama Juventus bukan terletak di kursi kepelatihan. Karena itu, ia berharap klub memberikan waktu bagi sang pelatih untuk membenahi tim hingga akhir musim.