Malam penuh mimpi buruk harus dirasakan oleh Goncalo Ramos ketika lini serang Rossoneri kembali tumpul di San Siro. Penyerang asal Portugal itu benar-benar terisolasi dan gagal memberikan dampak positif saat timnya harus takluk di tangan Bologna dengan skor tipis 2-4. Kekalahan memalukan ini sekaligus menjadi noda hitam karena menghentikan rekor tak terkalahkan mereka di ajang Serie A musim ini.

Sorotan tajam kini mengarah kepada sang penyerang yang didatangkan dengan mahar selangit sekitar Rp1,2 Triliun. Hingga sejauh ini, kontribusinya dinilai jauh dari kata sepadan dengan investasi besar klub, di mana ia baru membukukan total tiga gol dari 11 penampilan lintas kompetisi. Rinciannya, ia baru mengoleksi dua gol dari sembilan laga liga ditambah satu gol dari dua penampilan di kasta Eropa.

Berdasarkan catatan statistik dari Gazzetta, performa pemain pinjaman asal Paris Saint-Germain tersebut dalam laga melawan Bologna sungguh memprihatinkan. Sepanjang pertandingan, ia hanya mencatatkan 31 sentuhan bola tanpa sekalipun melepaskan tembakan ke arah gawang, tidak mencetak assist, serta gagal menciptakan peluang matang bagi rekan setinggahnya di lini depan.

Kendati demikian, pembelaan sempat diberikan oleh media Italia tersebut yang menyebut sang penyerang lebih layak disebut sebagai korban keadaan ketimbang pelaku utama keterpurukan. Karakteristik permainannya bukanlah tipikal striker murni penunggu kotak penalti, melainkan tipe penyerang yang suka turun menjemput bola untuk mencoba mengkreasi alur serangan bersama rekan setimnya.

Di sisi lain, lini depan AC Milan sebenarnya masih tergolong produktif dengan torehan 18 gol dari sembilan pertandingan liga domestik. Catatan tersebut menempatkan mereka di posisi keempat sebagai tim dengan lini serang tertajam di bawah Inter Milan, AS Roma, serta Lazio, yang menunjukkan bahwa masalah utama saat ini lebih terpusat pada adaptasi peran sang juru gedor.