Pelatih kepala Hansi Flick memastikan bahwa bintang muda Lamine Yamal telah merespons kegagalannya meraih Ballon d Or dengan cara yang sangat dewasa. Pemain berusia 19 tahun tersebut harus puas finis di posisi ketiga dalam perburuan trofi prestisius tersebut, tepat di belakang penyerang Bayern Munchen Harry Kane yang keluar sebagai pemenang, serta penyerang Real Madrid Kylian Mbappe pada malam gala di London Palladium.
Meskipun gagal merengkuh penghargaan utama pemain terbaik dunia, Yamal tetap pulang dengan kepala tegak setelah mengamankan Trofi Kopa untuk kategori pemain U-21 terbaik pria untuk tiga tahun beruntun. Menariknya, sang wonderkid sempat menyatakan bahwa rekan setimnya di Barcelona, Pau Cubarsi, jauh lebih layak menerima penghargaan tersebut atas performa gemilangnya sepanjang musim lalu.
Flick mengaku sangat bangga dengan mentalitas yang ditunjukkan oleh anak asuhnya itu dalam sesi latihan menjelang laga kandang LaLiga melawan Alavés di Spotify Camp Nou. Menurut pelatih asal Jerman tersebut, fokus dan etos kerja Yamal di lapangan latihan membuktikan bahwa dirinya memiliki mental juara sejati yang tidak mudah goyah oleh hasil individu.
Di sisi lain, Blaugrana kini tengah dihadapkan pada krisis cedera lini belakang yang cukup mengkhawatirkan menyusul rentetan hasil negatif di laga-laga sebelumnya. Kehilangan empat pilar di lini pertahanan seperti Jules Kounde hingga Andreas Christensen memaksa tim pelatih memutar otak, termasuk mempertimbangkan opsi belanja pemain pada bursa transfer Januari mendatang demi menjaga peluang juara.
KOMENTAR ()
Kamu harus login untuk ikut berdiskusi.
Login Sekarang