Di balik gemerlapnya stadion dan mahalnya harga jersey resmi klub-klub top Eropa, tersimpan realitas kelam di lantai produksi. Dilansir dari BBC Sport, sebuah investigasi mendalam mengungkap bahwa para buruh pabrik di Kamboja hanya menerima upah dasar kurang dari Rp20.000 per jam untuk menjahit seragam kebanggaan suporter. Pabrik-pabrik seperti Bowker Garment Factory dan Trax Apparel menjadi tempat di mana ribuan pekerja menyelesaikan hingga 700 potong pakaian per hari, termasuk jersey milik klub raksasa seperti Arsenal, Celtic, hingga Real Madrid.

Kondisi kerja di dalam pabrik dilaporkan sangat mengkhawatirkan dengan suhu ruangan yang kerap melampaui 35 derajat Celsius serta tekanan target produksi yang tinggi. Para pekerja yang sebagian besar merupakan perempuan mengaku sering menghadapi makian verbal ketika gagal memenuhi target harian. Selain masalah suhu dan tekanan mental, isu keselamatan kerja turut menjadi sorotan setelah adanya laporan kelalaian terkait peralatan listrik berbahaya di area produksi.

Mayoritas pekerja di fasilitas tersebut menerima gaji pokok bulanan berkisar antara Rp3,1 juta hingga Rp3,3 juta. Sebagian dari mereka bisa membawa pulang total pendapatan sekitar Rp4,6 juta per bulan setelah melalui lembur yang melelahkan. Angka ini praktis membuat para buruh kesulitan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, terutama ketika dihadapkan pada biaya sewa tempat tinggal dan kebutuhan pokok yang terus merangkak naik di tengah tekanan ekonomi.

Di sisi lain, lonjakan harga jersey dalam satu dekade terakhir telah memicu frustrasi di kalangan suporter setia. Pembelian jersey resmi dari merek-merek ternama seperti Adidas kini bisa menembus angka sekitar Rp1,7 juta hingga Rp2,4 juta untuk versi pemain di pasaran Inggris. Tingginya harga ritel ini tidak sebanding dengan upah minim yang diterima oleh para pekerja di negara berkembang, sebuah kontras tajam yang memicu perdebatan luas mengenai etika bisnis di industri sepak bola modern.

Organisasi hak-hak pekerja internasional dan para aktivis mendesak agar klub-klub besar maupun produsen perlengkapan olahraga lebih transparan serta bertanggung jawab penuh terhadap rantai pasok mereka. Para suporter kini berharap agar industri sepak bola global tidak hanya mengejar profit komersial semata, melainkan juga memastikan standar kemanusiaan dan rasa hormat dijunjung tinggi di setiap lini pembuatan atribut klub.