Menjadi bagian dari klub yang paling dibenci di Jerman ternyata menyisakan cerita yang luar biasa bagi Diego Demme. Sepanjang kariernya, gelandang tangguh ini pernah menghadapi berbagai raksasa Eropa, namun teror paling mengerikan justru ia rasakan di kancah domestik saat membela RB Leipzig. Kehadiran Die Roten Bullen di kancah sepak bola Jerman memang langsung memantik gelombang amarah dari suporter tradisional yang menganggap klub korporat tersebut merusak tradisi suci aturan 50+1 milik sepak bola Jerman.

Gelombang kebencian itu bukan isapan jempol belaka. Dilansir dari FourFourTwo, Demme mengenang bagaimana bus tim mereka kerap diserang botol, suporter yang diludahi, hingga insiden paling surreal dalam ajang DFB-Pokal pada Agustus 2016 silam. Ketika menghadapi Dynamo Dresden, ultras lawan secara nekat menyelundupkan kepala banteng sungguhan dan melemparkannya ke tengah lapangan sebagai bentuk protes terhadap logo perusahaan minuman energi tersebut. Kejadian ekstrem itu berujung pada sanksi denda sebesar €60.000 atau sekitar Rp1 Miliar bagi pihak Dresden beserta hukuman penutupan sebagian stadion.

Alih-alih merasa gentar menghadapi teror bertubi-tubi dari tribun lawan, Demme menyebut atmosfer penuh permusuhan tersebut justru menjadi bahan bakar tambahan bagi skuad Leipzig di lapangan. Tekanan psikologis dari suporter rival justru melecut semangat mereka untuk membungkam kritik lewat performa gemilang. Suasana panas ini juga merembet ke laga-laga tandang lainnya, mulai dari aksi blokade bus oleh suporter Koln hingga serangan batu dari ultras Borussia Dortmund yang sempat melukai beberapa pendukung serta aparat kepolisian.

Di bawah kendali RB Leipzig, klub ini perlahan membuktikan kapasitasnya sebagai kekuatan baru di Bundesliga meski terus mendapat cemoohan dari publik penikmat sepak bola tradisional. Mereka sukses finis di papan atas klasemen, mengamankan tiket kompetisi Eropa, bahkan sempat mengejutkan publik dengan menembus babak semifinal Liga Champions sebelum akhirnya Demme memutuskan untuk melanjutkan petualangan kariernya ke Italia bersama Napoli.

Perjalanan panjang dari klub divisi bawah hingga menjadi andalan di level tertinggi Eropa membuktikan bahwa proyek ambisius tersebut memberikan fondasi karier yang kokoh bagi Demme. Meskipun cap sebagai klub paling dibenci di Jerman barangkali tidak akan pernah hilang sepenuhnya dari ingatan suporter rival, pengalaman menghadapi teror ekstrem justru menempa mentalitas sang gelandang bertahan hingga akhir masa baktinya di lapangan hijau.