Panasnya persaingan di papan atas Manchester City bukan lagi sekadar urusan taktik di atas lapangan hijau. Di balik tensi tinggi antara dua raksasa yang saling sikut, tersimpan intrik pelik mengenai aliansi rahasia yang kerap disebut suporter sebagai "Red Cartel". Isu ini mencuat seiring sanksi finansial berat yang mendera The Citizens, memicu amarah publik Etihad Stadium yang merasa klub kesayangan mereka dikeroyok oleh para penguasa tradisional sepak bola Inggris.
Istilah Red Cartel merujuk pada tiga klub penguasa sejarah: Manchester United, Liverpool, dan Arsenal. Ketiganya mengenakan jersey kandang berwarna merah dan memegang dominasi 54 gelar liga. Dilansir dari ESPN FC, kemarahan fans City berakar dari keyakinan bahwa klub-klub ini sengaja mendesak aturan Financial Fair Play (FFP) untuk menjegal dominasi baru yang dibangun sejak kepemilikan Sheikh Mansour. Pertemuan rahasia di New York pada tahun 2017 antara para petinggi klub merah tersebut kian memperkuat dugaan adanya persekongkolan elite.
Sejumlah komentar pedas dari tokoh masa lalu seperti Arsene Wenger hingga pemilik Liverpool John W. Henry sejak tahun 2009 dinilai sebagai bukti nyata upaya sistematis membatasi daya gedor finansial City. Tak hanya itu, dominasi mantan pemain dari tiga klub tersebut di berbagai platform media turut membentuk opini publik yang dinilai mendiskreditkan prestasi The Citizens. Di sisi lain, para pendukung setia berpendapat bahwa aturan ketat liga sengaja diciptakan untuk melindungi status quo klub-klub elite bermental "pemilik klub eksklusif".
Meski demikian, tidak sedikit pengamat yang melihat aliansi ini sebagai langkah bisnis yang wajar untuk menjaga stabilitas kompetisi. Pakar industri olahraga menilai bahwa tindakan koalisi tersebut murni upaya melindungi kepentingan bisnis masing-masing di tengah ancaman guncangan finansial besar. Kendati begitu, di bawah komando manajer cerdas seperti Pep Guardiola, City tetap mampu membuktikan ketangguhannya di lapangan dengan terus bersaing di jalur juara musim ini.
Bagaimanapun akhir dari sengketa hukum yang melibatkan ratusan dakwaan finansial ini, luka di hati suporter City tampaknya tidak akan mudah sembuh. Bagi publik Etihad, rivalitas kini telah bergeser dari sekadar perebutan trofi menjadi perang urat syaraf melawan sistem yang dianggap tidak adil. Pertarungan antara kekuatan modal baru dan oligarki tradisional Liga Inggris dipastikan bakal terus membakar atmosfer sepak bola dalam beberapa musim ke depan.
KOMENTAR ()
Kamu harus login untuk ikut berdiskusi.
Login Sekarang