Kabar mengejutkan datang dari Nigeria. Federasi Sepak Bola Nigeria (NFF) kehilangan seluruh pucuk pimpinannya dalam satu waktu. Presiden, sekretaris jenderal, dan komite eksekutif kompak mengundurkan diri, meninggalkan kekosongan kekuasaan di puncak sepak bola negeri Afrika Barat itu.

Presiden NFF, Ibrahim Gusau, mengonfirmasi pengunduran dirinya dalam konferensi pers di Abuja, Kamis (6/3/2025). Keputusan ini diambil setelah konsultasi dengan keluarga, teman, dan pemangku kepentingan. Padahal, masa kepemimpinannya baru akan berakhir dalam 34 hari ke depan. Gusau terpilih pada September 2022, menggantikan Amaju Pinnick yang menjabat lama.

Tekanan terhadap kepemimpinan Gusau memang semakin besar. Timnas Nigeria gagal lolos ke dua edisi Piala Dunia putra terakhir. Kekalahan telak juga dialami tim putri, Super Falcons, yang untuk pertama kalinya absen di Piala Dunia Wanita setelah lolos terus sejak edisi perdana 1991.

Super Falcons sejatinya tampil sebagai juara bertahan di Piala Afrika Wanita (Wafcon) 2026. Namun, langkah mereka terhenti di perempat final oleh Kamerun, sebelum akhirnya kalah dari Afrika Selatan di play-off Piala Dunia. “Ke depan, saya yakin masa depan sepak bola Nigeria akan cerah. Saya harap kami terus berkontribusi, karena pengalaman dan hubungan kami dengan sepak bola Afrika tidak akan kami sia-siakan,” ujar Gusau dalam konferensi pers.

Meski tim putra menjadi runner-up Piala Afrika 2023 di bawah kepemimpinan Gusau, absennya Nigeria di dua Piala Dunia beruntun merupakan kemunduran yang belum pernah terjadi bagi salah satu raksasa sepak bola Afrika. Masalah juga datang dari level usia muda yang gagal bersaing di kompetisi kontinental dan global.

Kini, NFF akan menggelar kongres darurat di Abuja untuk menentukan langkah selanjutnya. Selain Gusau, Sekretaris Jenderal Mohammed Sanusi dan 11 anggota komite eksekutif lainnya juga mundur. Kongres ini diharapkan bisa membahas status komite eksekutif dan kepatuhan terhadap statuta NFF, Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF), dan FIFA.

Di luar lapangan, NFF juga disorot soal tata kelola dan keuangan. Dana intervensi sebesar 17 miliar naira (sekitar Rp153 miliar) yang disetujui Presiden Nigeria, Bola Tinubu, pada 2024 untuk membayar tunggakan tim nasional menjadi sorotan. Laporan komite faktual setelah kekalahan Nigeria di Wafcon juga mengungkap dugaan pengaruh anggota dewan dalam seleksi pemain dan praktik finansial yang tidak sehat.

Mantan bintang Nigeria seperti John Obi Mikel, Jay-Jay Okocha, dan Segun Odegbami menyerukan reformasi total. Mereka menilai perubahan hanya bisa terjadi jika ada perombakan total dari siklus administrator lama. Meski pengunduran diri ini menciptakan ketidakpastian, sebagian pihak melihatnya sebagai peluang untuk reformasi struktural dan reset budaya yang selama ini dinanti.