Dunia olahraga di Britania Raya tengah menghadapi sorotan tajam menyusul lonjakan harga tiket yang kian tidak masuk akal bagi para suporter setia. Bagaimana tidak, suporter harus merogoh kocek setidaknya sekitar Rp2,3 Juta hanya untuk menonton sehari pertandingan kriket The Ashes di Edgbaston, atau minimal sekitar Rp5,1 Juta untuk kursi standar di final tunggal Wimbledon. Angka fantastis ini memicu kemarahan publik yang merasa tradisi menonton langsung di stadion perlahan direbut oleh komersialisasi ekstrem.
Kenaikan drastis ini tidak hanya terjadi di lapangan tenis dan arena kriket, tetapi juga merambah ke ajang balap bergengsi dunia. Tiket umum untuk hari balapan Formula 1 di Silverstone kini melonjak hingga menembus angka sekitar Rp5,7 Juta. Di sisi lain, para penyelenggara berdalih bahwa pembengkakan biaya operasional, mulai dari utilitas, teknologi, hingga pemasaran yang naik hingga 25%, memaksa mereka melakukan penyesuaian tarif demi menjaga kualitas turnamen. Dilansir dari BBC Sport, pihak penyelenggara golf The Open, R&A, menegaskan bahwa pendapatan tiket bahkan hanya menyumbang kurang dari 20% dari total pemasukan keseluruhan.
Fenomena pergeseran ekonomi pengalaman ini membuat stadion kini lebih banyak menyediakan tiket hospitality demi meraup cuan maksimal dari korporasi maupun turis asing. Richard Flint selaku pimpinan Seat Unique menjelaskan bahwa kotak korporat kini dipecah menjadi kursi-kursi individual yang menyasar penonton berkocek tebal. Akibatnya, fans kelas pekerja seperti Lee Hanlon, seorang pendukung kriket asal Inggris, dengan berat hati memilih memboikot pertandingan karena merasa sudah sepenuhnya terpinggirkan oleh mahalnya biaya industri olahraga modern saat ini.
Tidak hanya mereka yang datang langsung ke stadion, para penonton di rumah pun ikut merasakan tekanan finansial yang masif akibat fragmentasi hak siar televisi. Menikmati siaran langsung sepak bola papan atas seperti Manchester City di kompetisi domestik maupun Eropa kini menuntut suporter untuk berlangganan banyak platform sekaligus, mulai dari Sky Sports hingga TNT Sports. Pakar hak media olahraga, Pierre Maes, memperingatkan bahwa tren harga yang melambung tinggi ini berisiko memicu migrasi massal suporter menuju layanan penayangan ilegal atau pembajakan siaran demi tetap bisa menyaksikan tim kesayangan mereka.
KOMENTAR ()
Kamu harus login untuk ikut berdiskusi.
Login Sekarang