Euforia keberhasilan Timnas Indonesia keluar sebagai juara ajang perdana FIFA ASEAN Cup masih menyisakan cerita tersendiri. Di balik trofi bergengsi yang diraih usai menumbangkan Thailand lewat drama adu penalti, sejumlah pilar utama justru harus menghadapi kenyataan pahit sekembalinya mereka ke klub masing-masing. Situasi ini tentu menjadi sorotan tajam bagi para suporter di tanah air yang memantau perkembangan karier para pemain andalan Garuda di level klub.

Sorotan pertama tertuju pada penjaga gawang andalan Maarten Paes yang berkarier di Belanda bersama raksasa Eredivisie. Sejak kembali dari tugas negara, kiper naturalisasi ini masih harus bersabar di bangku cadangan Ajax Amsterdam akibat ketatnya persaingan di bawah mistar gawang. Dari empat pertandingan yang telah dilewati oleh De Godenzonen selepas turnamen regional tersebut, sang penjaga gawang sama sekali belum mendapatkan kesempatan tampil dan harus rela melihat rekan setimnya mengawal lini pertahanan.

Kondisi serupa juga dialami oleh bek jangkung berpostur 196 cm, Elkan Baggott, yang merumput di kasta kedua Liga Inggris bersama Millwall. Pemain bertahan tangguh ini belum mampu menembus skuad utama dan hanya menghangatkan bangku cadangan dalam beberapa laga penting. Tantangan berat juga dirasakan penyerang Ole Romeny di Fortuna Sittard, di mana ia sempat dicadangkan penuh sebelum akhirnya dicoret dari daftar susunan pemain dalam laga kontra NEC Nijmegen.

Tidak hanya para pemain yang berkarier di Benua Biru, situasi pelik pun menghampiri bek sayap kiri Shayne Pattynama yang memutuskan berkarier di kompetisi domestik. Berperan penting sebagai salah satu algojo sukses saat adu penalti di final ASEAN Cup di bawah komando pelatih John Herdman, ia justru tersisih dari skuad utama Persija Jakarta. Namanya bahkan selalu dicoret dari daftar panggilan dalam enam pertandingan awal kompetisi domestik musim ini oleh juru taktik klub.

Situasi pelik yang menimpa para penggawa skuad Garuda ini tentu menjadi ujian mental tersendiri bagi mereka di level klub. Menit bermain yang minim di kompetisi reguler berpotensi mengancam sentuhan bola serta kebugaran fisik mereka jelang agenda internasional berikutnya. Publik sepak bola Indonesia tentu berharap para pemain andalan ini bisa segera membalikkan keadaan dan merebut kembali tempat utama di klub masing-masing.