Mauricio Pochettino resmi memulai persiapan untuk periode barunya bersama tim nasional Amerika Serikat setelah menandatangani perpanjangan kontrak. Dalam konferensi pers virtual dari London, pelatih asal Argentina itu memaparkan fondasi taktis dan konseptual yang ingin ia bangun untuk proyek timnas, dengan fokus pada tantangan internasional mendatang.
Pochettino menegaskan prioritas utamanya bukan sekadar lolos ke turnamen elit, melainkan melakukan pergeseran paradigma budaya dan kebiasaan kerja di sepak bola Amerika. Baginya, mengubah pola pikir kolektif pemain dan klub adalah kunci jika negara ini ingin menjadi kekuatan global. Menurut informasi yang dipublikasikan portal Tribuna.com, Pochettino berniat mengambil peran lebih luas di federasi AS, mulai dari pengembangan pemuda hingga pendidikan pelatih dan kerja sama dengan Major League Soccer. Proyeknya bertujuan meninggalkan warisan berkelanjutan dan menjadikan Amerika Serikat salah satu negara terkuat di dunia.
Dalam pernyataan yang dikumpulkan Goal.com dan Independent Español, Pochettino menyoroti dampak lingkungan media terhadap munculnya prospek muda seperti Cavan Sullivan, permata berusia 16 tahun dari Philadelphia Union. Sullivan mencuri perhatian setelah mencetak tiga gol dalam laga terakhir MLS dan secara publik menyatakan keyakinannya bisa membuat perbedaan melawan timnas Eropa kelas atas. Tanpa menyebut nama, Pochettino menekankan pentingnya tetap membumi. "Kamu hanya berhak bicara sedikit menyimpang jika kamu Messi dan sudah menang delapan Ballon d'Or; jika kamu masih muda dan mulai mengatakan bisa bermain di sini atau sana, saya pikir itu bukan cara yang tepat untuk membangun karier," ujarnya tegas.
Poin lain yang ditekankan Pochettino adalah overproteksi dan kebiasaan istirahat yang diterapkan klub-klub ketika prospek mereka dipanggil timnas. Ia mempertanyakan alasan kelelahan pada atlet remaja yang masih dalam perkembangan fisik. "Jika kamu berusia 17 tahun dan butuh istirahat? Oh, oh, oh. Kita punya masalah besar," sindirnya, merujuk pada sikap pelatih yang menolak melepas pemain muda ke pemusatan latihan internasional. Baginya, memperlakukan pemain 18 tahun seperti veteran 30 tahun justru memperlambat perkembangan fisik dan mental.
Refleksi ini terkait langsung dengan keputusan tim senior belakangan ini. Pochettino secara implisit menyinggung absennya Christian Pulisic dari Piala Emas 2025 untuk liburan musim panas, menegaskan bahwa memprioritaskan istirahat di atas komitmen ke jersey nasional adalah kebiasaan yang akan hilang di bawah asuhannya. Meski pesannya menuntut, Pochettino memastikan pintu timnas senior tetap terbuka bagi talenta muda seperti Zavier Gozo, Julian Hall, dan kiper Diego Kochen. Namun, regenerasi tidak akan terjadi secara mendadak, melainkan melalui proses bertahap dengan lingkungan yang mendukung. Strategi ini melibatkan kombinasi seimbang dengan veteran mapan seperti Chris Richards, agar pemain berpengalaman menjadi pemandu bagi prospek dalam menghadapi tekanan pertandingan internasional. "Kami tidak bisa membawa seluruh skuad pemuda; kami butuh campuran agar mereka belajar kebiasaan harian, bagaimana bersikap terhadap lawan dan rekan setim," jelas Pochettino. Kerja sama ini akan dikoordinasikan dengan pelatih U-23 Steve Cherundolo, dengan target Olimpiade Los Angeles 2028 dan Piala Dunia 2030.
Pelatih akan mengumumkan daftar skuad resmi pada 17 September mendatang untuk laga persahabatan melawan Peru, Chile, Meksiko, dan Kanada. Laga ini menjadi persiapan sebelum kualifikasi perempat final CONCACAF Nations League pada November. Dalam pemanggilan tersebut, kembalinya pemain yang ingin membuktikan diri setelah absen serta kemungkinan debut profil muda dengan perilaku sempurna akan dievaluasi dengan standar yang sama: performa taktis dan sikap di luar lapangan. Dengan demikian, Pochettino menetapkan posisi tegas di awal siklus barunya: kualitas teknis membuka jalan, tetapi hanya profesionalisme, rasa hormat, dan kerendahan hati yang menjamin kelangsungan di proyek USMNT.
KOMENTAR ()
Kamu harus login untuk ikut berdiskusi.
Login Sekarang