Kegagalan investasi besar di bursa transfer kembali menjadi sorotan tajam di Anfield setelah Liverpool menelan kekalahan telak 3-0 dari Manchester City. Dalam pertandingan tersebut, performa lini serang kembali mandul dan memicu frustrasi mendalam dari para pemain di atas lapangan. Situasi ini mempertegas tekanan besar yang kini harus ditanggung oleh manajemen klub dalam mengelola skuad asuhan pelatih Andoni Iraola di kompetisi Premier League.

Dilansir dari ESPN FC, sorotan utama tertuju pada gelandang serang Florian Wirtz yang diboyong dari Bayer Leverkusen dengan nilai awal mencapai £100 juta atau sekitar Rp2 Triliun pada 16 bulan lalu. Wirtz dinilai gagal memberikan kontribusi signifikan, baik dalam aspek bertahan maupun menyerang, yang membuat posisinya di tim utama mulai dipertanyakan oleh para pengamat sepak bola Inggris.

Eks defender Liverpool, Jamie Carragher, secara terbuka menyatakan bahwa pemain asal Jerman tersebut harus segera dicadangkan demi kebaikan tim. Tekanan serupa juga dirasakan oleh rekrutan mega-transfer lainnya seperti Alexander Isak dan Bradley Barcola, yang didatangkan dengan mahar fantastis melampaui angka £100 juta atau sekitar Rp2 Triliun dalam dua bursa transfer musim panas terakhir.

Kebijakan belanja besar-besaran ini menandai pergeseran drastis dari era kejayaan sebelumnya ketika klub mampu mendatangkan pemain bintang dengan harga rasional. Dalam rentang waktu 2015 hingga 2020, operasional transfer klub dikenal sebagai standar emas sepak bola Eropa berkat keberhasilan mengorbitkan pemain-pemain kunci yang kemudian membawa kejayaan domestik maupun kontinental.

Kini, inkonsistensi performa di atas lapangan serta hilangnya sejumlah bintang kunci secara gratis memperumit upaya klub untuk membangun dinasti baru. Dengan kedalaman skuad yang masih tertinggal dari para rival langsung di papan atas, tuntutan agar para pemain bintang segera membuktikan kapasitas harga mahal mereka menjadi semakin mendesak demi menyelamatkan musim kompetisi berjalan.