Ketika Cesc Fabregas memutuskan gantung sepatu di Como pada 2023, banyak yang mengira pria asal Spanyol itu hanya akan menikmati hidup tenang di tepi Danau Como. Namun, 18 bulan kemudian, pria 37 tahun itu justru mencatatkan namanya dalam sejarah klub kebanggaan kota kecil tersebut. Como, tim yang baru promosi ke Serie A pada musim 2023/24, dipastikan tampil di Liga Champions musim depan. Sebuah pencapaian yang hampir mustahil dipercaya, bahkan oleh para pendukungnya sendiri.
Perjalanan Fabregas bersama Como memang penuh kejutan. Mantan gelandang Arsenal, Barcelona, dan Chelsea itu memulai karier kepelatihannya sebagai asisten manajer pada November 2023, lalu resmi menjadi pelatih kepala pada Juli 2024. Dengan gaya kepelatihan yang tenang namun analitis, ia berhasil membangun tim yang kompak dan berani bermain terbuka. Kemenangan demi kemenangan diraih, dan Como yang musim lalu nyaris terdegradasi kini justru bersaing di papan atas. Para pengamat mulai menyebutnya sebagai calon pelatih top Eropa berikutnya, menggantikan generasi pelatih muda seperti Mikel Arteta dan Xavi Hernandez.
Salah satu kunci keberhasilan Fabregas adalah filosofi sepak bola menyerang yang ia tanamkan. Ia meminta para pemainnya untuk berani memegang bola, membangun serangan dari belakang, dan menekan tinggi tanpa rasa takut. Gaya ini mengingatkan banyak orang pada sentuhan sepak bola tiki-taka yang ia pelajari di Barcelona dan Spanyol. Namun, Fabregas juga tak segan beradaptasi. Saat melawan tim yang lebih kuat, ia bisa menginstruksikan timnya untuk bermain lebih pragmatis dan mengandalkan transisi cepat. Fleksibilitas inilah yang membuat Como sulit ditebak dan berbahaya bagi siapa pun lawannya.
Keberhasilan ini tentu tidak lepas dari dukungan pemilik klub yang juga miliarder Indonesia, Setyo Budi Hartono, dan saudaranya, Michael Hartono. Mereka membeli Como pada 2019 dan berani berinvestasi besar-besaran, termasuk mendatangkan pemain-pemain berpengalaman seperti Raphael Varane dan Pepe Reina. Kehadiran para pemain senior ini menjadi mentor bagi pemain muda di lapangan. Fabregas sendiri mengakui bahwa dukungan pemilik sangat vital. "Mereka memberi saya kepercayaan penuh dan tidak pernah ikut campur dalam urusan teknis," ujarnya dalam wawancara dengan BBC Sport.
Dengan tiket ke Liga Champions di tangan, Como kini bersiap menghadapi tantangan terbesar dalam sejarah mereka. Klub yang berbasis di kota dengan populasi sekitar 84.000 jiwa ini akan berbagi panggung dengan raksasa-raksasa Eropa seperti Real Madrid dan Manchester City. Bagi Fabregas, ini adalah kesempatan untuk membuktikan bahwa dirinya bukan hanya pelatih yang cocok untuk klub kecil, tetapi juga mampu bersaing di level tertinggi. Pertanyaannya kini: apakah ia akan bertahan di Como atau justru menjadi incaran klub-klub besar Eropa pada musim panas mendatang? Yang jelas, nama Cesc Fabregas kini tidak bisa lagi dianggap remeh di dunia kepelatihan.
KOMENTAR ()
Kamu harus login untuk ikut berdiskusi.
Login Sekarang